Kematian Akseyna, Grafolog: Surat Wasiat Ditulis Dua Orang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akseyna Ahad Dori. Facebook.com

    Akseyna Ahad Dori. Facebook.com

    TEMPO.COJakarta -- Grafolog dari American Handwriting Analysis Foundation Deborah Dewi melakukan perbandingan tulisan tangan Akseyna Ahad Dori, yang ditemukan tewas di Danau Kenanga Universitas Indonesia, 26 Maret 2015. Deborah membandingkan tulisan dalam surat wasiat dengan catatan kuliah dan hasil ujian sejak 2013 hingga akhir 2014. Hasilnya, menurut Deborah, ia menemukan tulisan dalam surat wasiat milik dua orang berbeda.

    “Tulisan pertama identik dengan tulisan tangan almarhum, sementara ada bagian tulisan tangan dan tanda tangan yang dibuat orang lain,” kata Deborah lewat surat elektronik padaTempo, Jumat, 22 Mei 2015.

    Temuan tersebut diperoleh Deborah setelah melakukan pembesaran mikroskopik 200 kali terhadap tulisan almarhum. Proses analisis dilakukan Deborah selama dua minggu. Deborah membandingkan tanda tangan Ace dalam surat wasiat dengan 39 tanda tangan asli yang terdapat dalam dokumen-dokumen pribadi.

    Deborah menemukan beberapa hal yang janggal dalam surat wasiat Ace. Karena itu, ia curiga surat tersebut bukan ditulis oleh Ace seorang. Bagian yang dicoret dan direvisi berikut penambahannya serta tanda tangan yang ternyata berbeda setelah dianalisis dengan pembesaran mikroskopik 200 kali,” ujar Deborah.

    Berdasarkan temuannya tersebut, Deborah yakin dalam surat wasiat ada karakter tulisan Ace dan orang lain. “Kesimpulannya, surat tersebut telah dimodifikasi oleh seseorang,” kata Deborah.

    Hasil analisis Deborah tersebut sudah dipresentasikan selama dua jam di hadapan penyidik Polresta Depok. Menurut dia, temuan indikator grafis berbicara lebih kuat dari dugaan atau alibi apa pun. 

    YOLANDA RYAN ARMINDYA | AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?