Jakarta Macet Gila, Jarak 5 Km Butuh Waktu 1 Jam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, 9 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, 9 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Proyek Manager Jalur Layang PT MRT, Heru Nugroho, mengatakan kecepatan berkendara di Jakarta pada pagi dan sore hari hanya 5 kilometer per jam. Sebab, jumlah populasi dan kendaraan saat jam pergi dan pulang kerja melonjak.

    Heru berujar, saat jam sibuk itu ada sekitar 12 juta orang di Jakarta. "Kalau malam, ada sekitar 9 juta orang," ujar dia dalam seminar Underground MRT Jakarta 2015, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Juni 2015.

    Heru mencontohkan, kepadatan penduduk dan jarak perjalanan mulai dihitung sejak 1985 dari dua arah berbeda. Yaitu, dari Cilandak, Jakarta Selatan ke Monumen Nasional, Jakarta Pusat dan dari Pasar Minggu ke Manggarai.

    Dari Cilandak ke Monumen Nasional hanya memerlukan waktu 38 menit dengan kecepatan kendaraan 24,7 kilometer per jam pada 1985. Lima belas tahun kemudian, membutuhkan waktu 49 menit dengan kecepatan kendaraan 19,2 kilometer per jam. "2011 butuh 100 menit dengan kecepatan 9,4 kilometer per jam," kata Heru.

    Sedangkan, dari Pasar Minggu ke Manggarai pada 1985 hanya 22 menit dengan kecepatan 26,3 kilometer per jam. Pada 2000 dengan kecepatan 16,1 kilometer per km memerlukan waktu 36 menit. Pada 2011 memerlukan waktu 95 menit dengan kecepatan 6,1 kilometer per jam.

    Semakin padatnya kendaraan, kata Heru, membuat warga beralih ke sepeda motor dan kendaraan umum. Karena kendaraan umum kurang memadai, kata dia, lonjakan kendaraan paling besar adalah sepeda motor. Pada 2008, tercatat ada 7 juta motor di Jakarta dibandingkan bus yang di bawah satu juta.

    Oleh karena itu, kata dia, pengembangan transportasi massal merupakan salah satu solusi untuk mengurangi dampak kemacetan di Jakarta. Salah satunya membangun layanan Mass Rapid Transportasi yang proyek pembangunannya saat ini masih tengah berjalan dan diprediksi mulai beroperasi paling lambat pada 2018. "Dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia hanya lima menit dengan target bisa menampung sekitar 300 ribu penumpang setiap hari," ujar Heru.

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.