Close

Roy Suryo : Video Polisi Tabrak Mahasiswa Direkayasa

Rabu, 28 Juli 2010 | 08:18 WIB

Roy Suryo : Video Polisi Tabrak Mahasiswa Direkayasa
Video tabrak lari polisi
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat telematika Roy Suryo mengatakan video yang beredar tentang mobil patroli polisi dari Polres Metro Jakarta Barat menabrak mahasiswa sudah direkayasa sehingga tidak utuh lagi.

"Ini merupakan suatu rekayasa substansi dan beberapa gambar sudah berubah," kata Roy Suryo dihubungi Selasa menanggapi adanya video bertajuk "Tabrak Lari" yang saat ini beredar di internet.

Menurut dia, bahwa dirinya merasa heran karena sebuah video lama saat demo mahasiswa pada Selasa (24/6/2008) muncul kembali dan dipastikan ada maksud tertentu.

Anggota Komisi I DPR RI itu mengatakan, video itu sengaja diedarkan oleh pihak tertentu sehingga menimbulkan keresahan, maka sebaiknya polisi melakukan penyelidikan kasus tersebut.

Dia memberi contoh soal rekayasa gambar pada video itu, ketika mobil polisi menabrak mahasiswa, maka terlempar hingga jauh.

Bahkan gambarnya juga agak aneh, bahwa bila ada orang tertabrak mobil tidak seperti itu gambar yang dihasilkan karena terpelanting dengan jarak yang panjang. Dia mengatakan telah meneliti gambar pada video itu dan menyesalkan adanya tindakan yang berupaya untuk memprovokasi. (Baca: Polisi Buru Pengunggah Video Tabrak Lari)

Pernyataan tersebut terkait beredarnya video dengan durasi 15 detik bahwa seorang pejalan kaki berkemeja biru terlempar ke trotoar jalan setelah tertabrak mobil patroli polisi. Namun mobil patroli itu melaju kencang dan ada seseorang yang berupaya untuk melempar benda ke arah kendaraan polisi itu.

Video tersebut merupakan demo anarki para mahasiswa yang menolak kenaikan BBM pada tahun 2009 di depan Universitas Atma Jaya, kawasan Semanggi, Jakarta. Walau begitu, katanya, diharapkan polisi dapat mengusut kasus terhadap pengunggah video tersebut karena dapat dianggap meresahkan. (Baca: Tabrak Lari Itu Terjadi 2008).

ANT | BS

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan