Kasus Perusuh Kebaktian Pulogebang Dianggap Selesai Setelah...

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Surat permintaan maaf dari Nasoem Sulaiman alias Joker. Surat ini dibuat Nasoem setelah proses media bersama pihak jemaat KGPM Sidang Daniel, warga dan Polsek Cakung, Jakarta Timur. FOTO: Dokumentasi Warga

    Surat permintaan maaf dari Nasoem Sulaiman alias Joker. Surat ini dibuat Nasoem setelah proses media bersama pihak jemaat KGPM Sidang Daniel, warga dan Polsek Cakung, Jakarta Timur. FOTO: Dokumentasi Warga

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus Nasoem Sulaiman alias Joker yang menjadi perusuh dalam kebaktian Pulogebang dianggap telah selesai. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan yang digelar di Rusun Pulogebang, Jakarta Timur, Senin malam, 25 September 2017.

    “Kita tidak usah bicara soal peristiwa kemarin lagi karena semua sudah selesai dimediasi,” ucap Jaelani, pengurus RT Rusun Pulogebang. “Jadi kami telah bermusyawarah menyepakati pembentukan forum komunikasi antarumat beragama.”

    Jaelani mengatakan acara pembentukan forum itu dihadiri sejumlah tokoh masyarakat.  Selain itu, hadir Kepala Kepolisian Resor Jakarta Timur, komandan distrik militer, dan Camat Cakung. “Pak Wali Kota juga datang. Bahkan dia yang menjadi moderator,” ujarnya.

    Baca: Sisi Lain Joker Si Perusuh Kebaktian Pulogebang

    Menurut Jaelani, forum komunikasi dibentuk untuk menampung semua aspirasi masyarakat antarumat beragama. Forum ini nantinya menjadi mediator apabila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat ihwal kegiatan keagamaan di lingkungan rusun. “Harapan kami, forum ini dapat mempersatukan dan menghidupkan toleransi kehidupan antarumat beragama di rusun ini,” ucapnya.

    Insiden di Rusun Pulogebang itu muncul setelah Joker membubarkan kebaktian ibadah jemaat KGPM Sidang Daniel di lantai 3 Blok F Rusun Pulogebang pada 23 September 2017. Peristiwa itu direkam dengan kamera video dan menjadi viral setelah diunggah ke media sosial.

    Dalam video tersebut, Joker terlihat memaki para ibu dan anak-anak yang mengikuti ibadah. Dia membawa gergaji besi dan kapak untuk menakut-nakuti peserta ibadah.

    Masalah itu sebenarnya sudah diselesaikan setelah Joker dipertemukan dengan penyelenggara kebaktian Pulogebang. Bahkan Joker sudah menyampaikan permintaan maaf secara tertulis. Namun situasi menjadi rumit karena ada sekelompok pria tak dikenal yang datang ke rusun dan mengeroyok Joker.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.