Jumat, 16 November 2018

Tol Serpong-Balaraja Seksi IA Ditargetkan Selesai Akhir 2018

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan bermotor terjebak banjir di KM 8 tol Serpong, Kamis (19/04). tergenangnnya ruas jalan tol ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan buruknya sistem drainase di sekitar jalan tol. TEMPO/Seto Wardhana

    Sejumlah kendaraan bermotor terjebak banjir di KM 8 tol Serpong, Kamis (19/04). tergenangnnya ruas jalan tol ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan buruknya sistem drainase di sekitar jalan tol. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Tangerang - PT Trans Bumi Serbaraja sebagai operator tol Serpong-Balaraja menargetkan pembangunan jalan tol Serpong-Balaraja seksi I A sepanjang 5,2 kilometer selesai pada akhir 2018 mendatang.

    Konstruksi ruas tol yang dimulai dari The Green BSD hingga Aeon Mal itu akan dimulai akhir tahun ini.

    "Dimulai akhir 2017, target kami akhir 2018 sudah selesai," ujar Direktur Utama PT Trans Bumi Serbaraja sebagai operator tol Serpong-Balaraja, Krist Ade Sudiyono saat dihubungi Tempo, Senin 2 Oktober 2017

    Krist Ade mengatakan perusahaan akan memulai konstruksi jalan tol ini dari titik O yaitu di dekat jembatan Stasiun Kereta Komuter Rawa Buntu Serpong.

    Di Seksi I A ini, Krist Ade melanjutkan, akan ada pekerjaan struktur yang berat dan massif yaitu pembangunan jembatan Cisadane. "Untuk pekerjaan ini kami akan kerahkan tiga paket kontraktor," katanya.

    Secara paralel, kata Krist Ade, setelah Seksi I A dilanjutkan ke I B sampai Legok. Ade menjelaskan pembangunan tol Serpong Balaraja sepanjang 39,8 kilometer akan dibagi dalam tiga seksi yaitu seksi I The Green-Legok (terbagi dalam I A dan I B) dengan panjang 11 kilometer.Seksi 2 Legok-Cileles, dan seksi 3 Tigaraksa-Tol Merak Tangerang KM 37.

    Berdasarkan penetapan lokasi dikeluarkan Pemerintah Provinsi Banten pada   21 Juni 2017, jalan tol ini akan dibangun 2 x 3 lajur dengan luas 437,57 hektare dan dengan panjang ruas 39,82  kilometer.

    Trase jalan tol Serpong-Balaraja berada di Provinsi Banten melewati kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

    PT Trans Bumi Serbaraja merupakan konsorsium kelompok usaha Sinar Mas Land, Astratel Nusantara (Astra Infrastruktur) dan Kompas Gramedia.

    Konsorsoium menyiapkan dana sebesar Rp 1,75 Triliun untuk pembayaran lahan tol Serpong-Balaraja.  Krist Ade mengatakan anggaran tersebut sudah dimasukan dalam bussines plan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Trans Bumi Serbaraja.

    Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Tangerang Himsar berharap proses ganti rugi lahan pembangunan jalan tol Serpong-Balaraja bisa tuntas pada tahun 2018 mendatang.

    "Harapannya bisa selesai sesuai dengan tahapan," kata Himsar.

    Himsar mengatakan tahapan pembebasan lahan terukur dan dan terkonsep dengan baik karena tahapan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang. Pada bulan September ini, kata dia, telah dimulai tahapan inventarisasi objek tanah, bangunan dan tanaman yang akan diganti rugi.

    Untuk tanah, kata Himsar ada sekitar 4000 bidang yang berada di 32 desa dan 8 Kecamatan di Kabupaten Tangerang.

    "Proses inventarisasi data objek dan fisik tanah, tanaman dan bangunan dilakukan selama 14 hari kerja," kata Himsar.

    Setelah itu hasil inventarisasi  diserahkan  tim appraisal dan melakukan pengkajian dan pendataan  selama 30 hari kerja.

    "Tim appraisal melakukan penghitungan nilai ganti rugi selama  1,5 bulan," kata Himsar.

    Jika dihitung seluruh proses itu berjalan hingga Maret 2018 dan mulai dilakukan pembayaran.  Hanya saja, kata Himsar, itu adalah hitungan ideal jika tim tidak memiliki kendala yang berarti.

    Himsar berharap tak ada hambatan dalam proses pembebasan lahan proyek ini." Karena hambatan terbesar kami adalah faktor dari eksternal,"katanya.

    JONIANSYAH HARDJONO

     


  • Tol
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.