AP II: 2025, Bandara Soekarno-Hatta Jenuh, Ini Alternatifnya

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja memantau perkembangan pembangunan infrastruktur Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, 14 Desember 2015. Rute yang akan dilalui kereta bandara ini yaitu, stasiun Manggarai-Duri-Batu Ceper-Soe

    Presiden Joko Widodo bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja memantau perkembangan pembangunan infrastruktur Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, 14 Desember 2015. Rute yang akan dilalui kereta bandara ini yaitu, stasiun Manggarai-Duri-Batu Ceper-Soe

    TEMPO.COTangerang - Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II Agus Haryadi mengatakan rencana pembangunan Bandara Soekarno-Hatta 2 di salah satu pulau reklamasi Kabupaten Tangerang merupakan alternatif untuk mengantisipasi jika Bandara Soekarno-Hatta jenuh. "Ini dari berbagai pilihan dan alternatif," katanya kepada Tempo, Selasa, 11 Oktober 2017.

    Menurut Agus, Bandara Soekarno-Hatta saat ini tinggal menunggu titik jenuh dan tidak bisa dikembangkan lagi. "Lahan habis, sementara traffic sudah sangat tinggi," ujarnya.

    Agus menuturkan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta hanya sampai pada pembangunan runway ketiga dan Terminal 4, yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.

    Baca: Bandara Soekarno-Hatta 2 Dibangun di Pulau Reklamasi Tangerang

    Agus memperkirakan Bandara Soekarno-Hatta mengalami titik jenuh pada angka 100 juta penumpang. Saat ini, jumlah penumpang mencapai 60 juta."Diperkirakan tahun 2025 sudah jenuh," ucapnya.

    Karena itu, kata Agus, harus ada alternatif membuat bandara baru di luar Soekarno-Hatta. Seperti bandara di luar negeri, Agus melanjutkan, pengembangan dilakukan di luar bandara yang sudah ada. "Seperti di Jepang, bandara dibangun di lepas pantai atau dibuatkan pulau, tapi menggunakan satelit. Bisa dihubungkan antara satu bandara dengan bandara lain," tuturnya.

    Fasilitas runway dan terminal, Agus menambahkan, bisa saja dibangun di pulau atau di lepas pantai. "Nanti disiapkan angkutan penjemput penumpang, fasilitas kereta, atau kereta bawah tanah," katanya.

    Namun, untuk pembangunan Bandara Soekarno-Hatta 2, kata dia, masih perlu pengkajian dari sisi biaya dan berbagai aspek lain.

    Baca: Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Dilengkapi Video Contact Center

    Pemerintah menggulirkan wacana pembangunan Bandara Soekarno-Hatta 2 di pulau reklamasi Kabupaten Tangerang. Bandara Soekarno-Hatta 2 akan dibangun di pulau nomor 4 dari tujuh pulau reklamasi pantai utara Kabupaten Tangerang. "Iya, rencananya di pulau keempat reklamasi," ujar Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kabupaten Tangerang Taufik Emil.

    Taufik mengatakan rencana pembangunan Bandara Soekarno-Hatta 2 masih tahap prarencana Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. "Masih tahap kajian prastudi kelayakan, belum ada prediksi kapan akan mulai dibangun Kemenhub," ucapnya.

    Pulau keempat adalah satu dari tujuh pulau yang akan dibangun Pemerintah Kabupaten Tangerang dengan cara mereklamasi 9.000 hektare laut di sepanjang pesisir utara Tangerang dari pantai Dadap, Kosambi, hingga Kronjo.

    Sebelumnya, Kabupaten Tangerang telah menunjuk PT Tangerang International City, anak perusahaan Salim Group, sebagai pengelola kawasan reklamasi tersebut. TIC bersama pengembang lain akan bersama-sama membangun Kota Baru Pantura berbentuk pulau. Tujuh pulau yang terbagi dalam kawasan hunian, pusat bisnis dan jasa, kawasan industri dan pergudangan, hingga pelabuhan dan peti kemas tersebut akan memiliki luas yang bervariasi, dari 2.000 hektare, 2.500 hektare, sampai 3.000 hektare. Sedangkan pelabuhan dibangun seluas 1.500 hektare.

    Megaproyek Bandara Soekarno-Hatta 2 yang menelan investasi puluhan triliun tersebut akan dibangun dari Pantai Indah Kapuk, yang berbatasan dengan kawasan Pantai Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.