Senin, 17 Desember 2018

Upaya Bekasi Pertahankan Budi Daya Ikan Hias Terbesar Indonesia

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membersihkan akuarium berisi ikan hias jenis Manfish di kawasan Sumenep, Jakarta, 22 Agustus 2016. Ikan yang dikenal dengan julukan Angel Fish ini merupakan salah satu spesies ikan hias favorit. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja membersihkan akuarium berisi ikan hias jenis Manfish di kawasan Sumenep, Jakarta, 22 Agustus 2016. Ikan yang dikenal dengan julukan Angel Fish ini merupakan salah satu spesies ikan hias favorit. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Bekasi -Sejak 1998 Kota Bekasi menjadi eksportir terbesar ikan hias di Indonesia dan jutaan ekor aneka ikan hias air tawar didistribusikan ke berbagai mancanegara setiap bulannya.

    "Prospeknya sangat jelas," kata Ketua Asosiasi Ikan Hias Bekasi, Atep Setiawan kepada Tempo, Jumat, 27 Oktober 2017.

    Atep mengatakan, permintaan ikan hias cukup stabil dari tahun ke tahun. Justru produksi mengalami penurunan dari waktu ke waktu, karena banyak pembudidaya ikan hias gulung tikar. Atep mencatat, jumlah pembudidaya ikan hias air tawar di Kota Bekasi kini sekitar 400-an orang.
    Baca : Susi: Transportasi Kunci Meningkatkan Nilai Ekspor Perikanan Indonesia

    Jumlah itu menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya mencapai 700-an orang. Hal itu lah yang membuat pembudidaya ikan hias kewalahan memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. 75 persen produksi ikan hias air tawar diekspor ke Asia, Eropa, bahkan Amerika. "Paling banyak ke Cina, kebutuhan ikan hias di sana no limit," kata Atep.

    Menurut Atep, salah satu faktor yang membuat pembudi daya ikan hias sulit berkembang karena tergerus perkembangan zaman. Dulu, kata dia, pembudi daya cukup gampang mencari pakan ikan seperti kutu air, jentik nyamuk, dan lainnya. Sebab, masih cukup banyak rawa, maupun sawah. "Sekarang banyak yang berubah menjadi klaster, dan berdiri bangunan," kata dia.

    Atep tak ingin eksistensi budi daya ikan hias dan pemasok ikan hias terbesar di Indonesia ke mancanegara sirna. Untungnya, pemerintah daerah kini mulai membuka diri dengan memfasilitasi tempat sebagai sentra ikan hias. Sementara ditetapkan di Jalan Pariwisata, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu. "Di sini kami harus berbagi tempat dengan pedagang burung," kata Atep.

    Digelarnya pameran dan bisnis ikan hias 'Aquabex' tahun 2017 di sentra ikan hias dengan 60 spesias ikan, kata dia, semakin merangsang pelaku bisnis dan pembudidaya berkembang. Bahkan, permintaan kios di sentra cukup banyak. "Permintaan banyak, tapi tempatnya tidak ada," kata dia. "Karena di sini sudah ada burung."

    Selain memfasilitasi tempat sebagai sentra ikan hias, pemerintah juga mulai membantu pendaan. Para pembudidaya yang kekurangan indukan mulai disuplai, sehingga produksi tetap stabil. "Pemilihan indukan unggul sudah mulai konsen, dan itu dilakukan pelaku ikan hias," ujar Atep. "Beda dengan dulu yang penting ikan."
    Simak : KKP Buka Keran Investasi Perikanan untuk Jepang

    Menurut dia, di Kota Bekasi ada 18 eksportir ikan hias, paling banyak di Indonesia, ketimbang darah lain. Mereka, ujar dia, siap mengirimkan produksi ikan setiap waktu. Sebab, kebutuhan ikan hias di luar negeri tak pernah menurun. "Dalam seminggu, hampir setiap hari kirim ikan hias," kata dia.

    Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, potensi budidaya ikan hias sangat menjanjikan. Ia meminta organisasi perangkat daerah terkait seperti Dinas Pertanian dan Perikanan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan sinergi. "Sentra ikan hias jangan disatukan dengan pasar burung," kata dia.

    Rahmat meminta anak buahnya menyiapkan tempat di Pasar Teluk Buyung, Bekasi Utara. Sehingga antara sentra ikan hias dan burung dipisah. Ia meminta salah satu haru mengalah, agar usaha bisa berkembang dengan baik. "Saran saya ikan saja yang ke sana, karena dekat dengan Summarecon," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".