Pejalan Kaki Protes Disebut Sandiaga Uno Biang Ruwet Tanah Abang

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengguna jalan melintas di antara Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berdagang di atas trotoar di Tanah Abang, Jakarta, 26 Oktober 2017. Meskipun sudah ditertibkan, para PKL tersebut masih berjualan di atas trotoar. ANTARA

    Pengguna jalan melintas di antara Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berdagang di atas trotoar di Tanah Abang, Jakarta, 26 Oktober 2017. Meskipun sudah ditertibkan, para PKL tersebut masih berjualan di atas trotoar. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pejalan kaki di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak setuju dengan pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bahwa pejalan kaki biang kerok keruwetan lalu lintas selain angktan umum parkir sembarangan, dan proyek infrastruktur.

    SimakPejalan Kaki Beri Tahu Sandiaga Uno Cara Bereskan Tanah Abang

    Sebelumnya, Sandiaga menuduh para pedagang kaki lima (PKL) liar yang bikin Tanah Abang semrawut. Belakangan, dia merevisi pendapatnya itu."Kesemrawutan terjadi karena pembangunan jalan, tumpahnya pejalan kali yang keluar dari Stasiun Tanah Abang, dan banyak angkot yang parkir liar atau ngetem," katanya di Balai Kota Jakarta pada Senin, 6 November 2017.

    Baca jugaTemuan Terbaru Sandiaga Uno: 3 Biang Ruwet Tanah Abang

    Suci, pejalan kaki dari Stasiun Tanah Abang menuju Pasar Tanah Abang, membantah temuan terbaru Sandiaga yang diperoleh via kamera drone tersebut. Menurut Suci, PKL liar adalah penyebab kemacetan di kawasan Stasiun Tanah Abang.

    Suci menuturkan, akibat PKL liar di trotoar para pejalan kaki terpaksa mengalah sehingga mengganggu lali lintas. "PKL jualannya nutupin trotoar sehingga kita pejalan kaki harus ngambil badan jalan karena enggak bisa lewat," ucapnya kepada Tempo hari ini, Selasa, 7 November 2017.

    LihatSandiaga Uno Ungkap Kelemahan Program Ahok Soal Transjakarta

    Pengguna trotoar lainnya, Tsania, sepakat dengan Suci bahwa para PKL liar bercokol di sepanjang trotoar sehingga pejalan kaki meluber ke jalanan. ketika mereka beramai-ramai menyeberang jalan, terjadilan kemacetan lalu lintas.

    "Kayak efek domino," ujar Tsania.

    Tempo melakukan reportase ke kawasan Stasiun Tanah Abang pada Selasa, 7 November 2017. Setiap pagi dan sore/malam hari, stasiun dijejali ribuan penumpang yang berangkat dan pulang kerja. Pada siang-sore hari, kaum perempuan yang selesai belanja busana di Pasar Tanah Abang memenuhi peron stasiun.

    “Selama sehari, penumpang kereta yang keluar-masuk dari stasiun bisa mencapai 110 ribu orang,” kata Kepala Stasiun Tanah Abang Cahyono. Menurutnya, Stasiun Tanah Abang bersama Stasiun Bogor dan Stasiun Kota merupakan stasiun dengan penumpang terbanyak.

    Penumpang sebanyak itu merupakan warga dari Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Rangkasbitung, selain warga Jakarta sendiri. Memang Tanah Abang merupakan stasiun transit untuk kereta komuter dari kota-kota di pinggiran Jakarta.

    Angkutan umum yang melintas kawasan Tanah Abang adalah bus Transjakarta (rute Pasar Minggu-Tanah Abang, Kebayoran Lama-Tanah Abang), bus kota non-Transjakarta, dan angkot berbagai jurusan.

    Beberapa petugas Suku Dinas Perhubungan DKI Jakarta terlihat sibuk membantu pejalan kaki menyeberang jalan di depan Stasiun Tanah Abang. Tidak sedikit yang menyeberang jalan sembarangan sehingga menimbulkan kemacetan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.