Anies Baswedan Lontarkan Istilah Lain Pengganti Pribumi

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri peresmian pemugaran bangunan Bale Wantilan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Cilincing, Jakarta Utara, Ahad, 5 November 2017. TEMPO/Larissa Huda

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri peresmian pemugaran bangunan Bale Wantilan Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Cilincing, Jakarta Utara, Ahad, 5 November 2017. TEMPO/Larissa Huda

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan hadir bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam Pengajian Bulanan Muhammadiyah pada Jumat malam, 10 November 2017.

    Berbicara sebagai salah satu narasumber, Zulkifli, yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional, mengungkit lagi pernyataan Anies yang jadi polemik tentang pribumi dalam pidato inagurasinya ketika baru dilantik pada 16 Oktober 2017.

    "Tadi saya mau bilang pribumi, tapi Pak Anies sudah pernah diprotes," katanya di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Nomor 62, Menteng, Jakarta Pusat.

    Sebelumnya, Zulkifli mengungkapkan berbagai permasalahan yang ada di Jakarta, termasuk kemiskinan dan kesenjangan sosial. Menurut dia, 5 persen jumlah pengusaha Tionghoa di Jakarta mampu mengungguli 95 persen pengusaha lokal. Dia mengatakan semula akan menyebut pengusaha lokal sebagai pribumi tapi dibatalkan sebab Anies pernah diprotes karena istilah pribumi.

    "Jadi saya pakai istilah pengusaha lokal saja," kata Zulkifli disambut tawa Anies dan ratusan jemaah pengajian yang hadir dalam acara pengajian itu.

    Gubernur Anies Baswedan menuai kritik keras dari berbagai kalangan termasuk Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Bahkan, dia sempat diadukan ke polisi karena istilah pribumi yang diucapkannya tak sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 yang melarang penggunaan kata pribumi dan nonpribumi dalam pemerintahan.

    Menanggapi sentilan Zulkifli, Anies Baswedan membela diri dengan mengatakan apa salahnya menggunakan satu kata yang ramai dibicarakan tersebut. Tapi, dia mengakui faktanya memang banyak sekali yang protes gara-gara istilah pribumi. Kemudian Anies mengganti istilah pribumi dengan "satu kata yang ramai dibicarakan itu".

    Anies lalu melontarkan perumpamaan, "Kalau kaki kita luka, lalu berjalan ke pantai dan terkena air laut terasa perih, maka jangan marahi airnya tapi obati lukanya." Tepuk tangan riuh pun membahana.

    Setelah menerangkan soal istilah pribumi, Anies Baswedan kembali menegaskan bahwa dia hanya ingin membangun persatuan. Tetapi persatuan tidak mungkin terwujud jika masih ada ketimpangan sehingga harus diperbaiki ketimpangannya kemudian akan terwujud persatuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.