Selasa, 11 Desember 2018

Cerita Ojek Online yang Ditumpangi Helmi Usai Tembak Dokter Letty

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ryan Helmy tersangka pembunuh Dokter Letty sedang mengikuti rekonstruksi di Polda Metro Jaya, 13 November 2017. TEMPO/Chitra Paramaesti

    Ryan Helmy tersangka pembunuh Dokter Letty sedang mengikuti rekonstruksi di Polda Metro Jaya, 13 November 2017. TEMPO/Chitra Paramaesti

    TEMPO.CO, Jakarta -Rahmatsyah Nasution seorang pengojek online yang mengantar Ryan Helmi ke saat pembunuhan Dokter Letty, turut dalam prarekonstruksi kejadian pembunuhan tersebut di Kepolisian Daerah Metro Jaya hari ini.

    “Awalnya saya tidak tahu apa-apa,” kata Rahmatsyah di kantor Polda Metro Jaya, Senin, 13 Januari 2017.

    Rahmatsyah mengatakan setelah mendengar suara tembakan beberapa kali, penumpangnya itu langsung meminta diantarkan ke Polda Metro Jaya. “Katanya cuma ada perlu sebentar, memang sebentar. Cuma 10 menit (di klinik itu), lalu dia bilang mau menyerahkan diri,” ujarnya.
    Baca : Suami Dokter Letty Beli Pistol Sejak Digugat Cerai

    Selama di perjalanan, tutur Rahmatsyah,  tidak menceritakan apapun, Helmi hanya terdiam hingga tiba di kantor Polda dan membayar ongkos lebih. “Kalau saya tahu dia yang menembak, saya kabur, takut juga,” ucapnya.

    Dua jam setelah membunuh istrinya, Kamis 9 November 2017 sekitar pukul 16.00 WIB, Helmi yang juga seorang dokter itu menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya sambil membawa dua pistol. Satu pistol revolver rakitan dan yang satunya jenis FN. Helmi datang begitu tenang seperti ketika dia baru saja menembak dokter Letty.

    Hasil tes urine menunjukkan bahwa Helmi mengkonsumsi obat penenang. Kepada polisi, dia mengakui menenggak penenang sebelum membunuh karena depresi gara-gara digugat cerai oleh istrinya.

    Putusan gugatan cerai rencananya muncul pada Sabtu, 18 November 2017. Maka Helmi mendatangi Dokter Letty untuk meminta membatalkan gugatan cerai. Helmi juga sedang menganggur setelah dia dipecat karena diduga memperkosa karyawan tempat dia bekerja.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.