BUMD Tidak Dapat Modal, Sandiaga Uno Cerita Pengalamannya

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih Sandiaga Uno memantau harga pangan di Pasar Cipete Selatan, Jakarta, 20 Juni 2017. Sandiaga Uno bersama Asosiasi Pedagang Seluruh Indonesia (APSI) melakukan blusukan untuk memantau harga sembako menjelang Idul Fitri 1438 Hijriyah. TEMPO/Chitra Paramaesti

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih Sandiaga Uno memantau harga pangan di Pasar Cipete Selatan, Jakarta, 20 Juni 2017. Sandiaga Uno bersama Asosiasi Pedagang Seluruh Indonesia (APSI) melakukan blusukan untuk memantau harga sembako menjelang Idul Fitri 1438 Hijriyah. TEMPO/Chitra Paramaesti

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan bahwa badan usaha milik daerah justru terbebani jika diberi penyertaan modal daerah.
    "Karena kalau dibebani PMD, enggak punya fleksibilitas untuk mengakses dana-dana yang ada di masyarakat, di dunia usaha, swasta, dan lain sebagainya," kata Sandi di Balai Kota DKI, Senin, 20 November 2017.

    Dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah DKI 2018, Tim Anggaran Pemerintah Daerah DKI mengusulkan pemotongan penyertaan modal daerah (PMD) kepada sejumlah Badan Usaha Milik Daerah DKI. Pemotongan itu dilakukan untuk menutup defisit rencana anggaran sebesar Rp 2,5 triliun. 

    Ada lima perusahaan daerah yang dipangkas PMD-nya menjadi nol. Lima BUMD yang tak lagi mendapat PMD itu adalah PT Jakarta Tourisindo yang sebelumnya diajukan sebesar Rp 23 miliar, PD Dharma Jaya sebesar Rp 39 miliar, PT Asuransi Bangun Askrida sebesar Rp 4,4 miliar, PT Food Station Tjipinang Jaya sebesar Rp 125 miliar, dan PD Pembangunan Sarana Jaya sebesar 394 miliar.

    Baca: Berharap Investasi dari Dubai, Sandiaga: Tak Ada Lagi Upah Murah

    Sandi mengaku tahu betul bagaimana rasanya dibebani dengan PMD karena pengalamannya sebagai pengusaha. Menurut Sandi, dengan tidak adanya PMD, pengelola perusahaan akan lebih leluasa dan berinovasi dengan pendekatan solutif.

    "Saya dulu memulai usaha dari tiga karyawan saja, modalnya hampir tidak ada kami bisa dengan inovasi, pendekatan-pendekatan yang solutif, kami bisa membesarkan usaha kami dan menciptakan lapangan kerja dari 3 orang karyawan jadi 30 ribu lapangan pekerjaan," ujarnya.

    Sandi meyakini, para direksi BUMD berpandangan demikian. Yang penting, kata Sandi, tugas pokok dan fungsi perusahaan daerah tidak terganggu. Ia meminta para direksi untuk merevisi rencana bisnis dan tugas, pokok, dan fungsi perusahaan. "Kami ingin anggaran ini berpihak pada seluruh masyarakat Jakarta dan agenda pembangunan yang berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja, pendidikan yang baik, tuntas, dan berkualitas, dan berkaitan dengan kestabilan harga-harga di Ibu Kota bisa kami jaga," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.