Duel ala Gladiator, Mendikbud: Sekolah yang Tanggung Jawab

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    Ilustrasi perkelahian/kekerasan/penganiayaan. Shuttertock

    TEMPO.CO, Bogor - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengumpulkan ratusan kepala sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan swasta se-Kabupaten Bogor setelah duel ala gladiator kembali menewaskan satu siswa. Kasus perkelahian tiga pasang pelajar SMP itu menewaskan Ahmad Raih Syahdan, 16 tahun, pelajar SMP Islam Asy Syuhada Rumpin.

    Muhadjir meminta kasus perkelahian pelajar yang mengakibatkan korban tewas seperti yang terjadi di Kecamatan Rumpin tidak boleh terulang lagi. "Saya minta jangan sampai ada lagi kasus perkelahian pelajar hingga menewaskan siawa seperti ini terjadi lagi di Kabupaten Bogor," katanya di hadapan ratusan kepala sekolah se-Kabupaten Bogor di SMP IT Al-Madina, Cibinong, Selasa, 28 November 2017.

    Jika kasus perkelahian pelajar hingga menimbulkan korban jiwa kembali terjadi di Kabupaten Bogor, kata Muhadjir, yang bertanggung jawab adalah pihak sekolah.  "Nyawa siswa ini terlalu berharga. Jika sampai terjadi lagi, pihak sekolah yang bertanggung jawab dan harus ada sanksi," tuturnya.

    Baca: Duel ala Gladiator Anak SMP, 2 Pelaku Berstatus DPO

    Muhadjir pun memerintahkan semua kepala sekolah, terutama di Kabupaten Bogor, dapat mendeteksi secara dini adanya gerombolan atau kelompok-kelompok siswa yang berpotensi melakukan tawuran atau duel. "Saya tidak paham mereka bisa membuat kegiatan seperti itu, tapi coba diawasi betul agar tidak ada gerombolan siswa seperti itu lagi," ucapnya.

    Menurut Muhadjir, saat ini kepala sekolah tidak lagi menjadi seorang guru, tapi seorang manajer yang dapat mengatur pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar di lingkungan sekolah. "Seperti di Ambon, ada sekolah favorit bukan karena fasilitasnya, tapi karena kepala sekolahnya kreatif sehingga sekolah itu unggul."

    Pada saat ini, kata Muhadjir, tidak ada lagi ada lagi alasan sekolah yang tertinggal karena fasilitas kurang. Sebab, dengan school based management semua sekolah dapat maju dan unggul pendidikannya. "Para siswa tidak melulu belajar di dalam kelas, boleh saja gurunya mengajak dan membawa siswanya ke pasar, masjid, sebagai sumber untuk belajar," kata Mendikbud.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.