Tanggul Jatipadang Jebol Dua Kali, Warga Curiga Ini Penyebabnya

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tanggul sementara untuk menahan laju air Kali Pulo di Jatipadang, Jakarta Selatan, Senin  4 Desember 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Tanggul sementara untuk menahan laju air Kali Pulo di Jatipadang, Jakarta Selatan, Senin 4 Desember 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga RT03 RW06 Jatipadang mengatakan tanggul darurat penahan air Kali Pulo jebol karena dasar kali di tanggul belum dikeruk. Peristiwa tanggul Jatipadang jebol pada Kamis, 30 November 2017, merupakan kali kedua.

    Fatimah Burhan, istri Ketua RT 03, mengatakan bagian hulu sungai yang sudah dikeruk dan diperdalam membuat debit air yang mengalir lebih deras. Namun bagian hilir belum dikeruk. Fatimah, yang rumahnya hanya 10 meter dari lokasi tanggul, menduga hal tersebutlah yang akhirnya membuat tanggul Jatipadang bobol.

    "Bagian atas sudah dikeruk pakai beko (ekskavator), tapi yang di lokasi tanggul jebol belum," ujarnya saat ditemui Tempo di kediamannya, Senin, 4 Desember 2017.

    Baca: Tanggul Jatipadang Jebol, Sandiaga Uno Cari Solusi Besok

    Bagian sungai yang dangkal membuat aliran air menjadi terhambat dan menekan dinding penahan air. Arus sungai yang deras selama dua jam akhirnya menjebol tanggul. Pada 19 Oktober lalu, tanggul itu sudah pernah jebol.

    Namun dampak tanggul jebol kali ini lebih parah. Jika sebelumnya ketinggian air hanya 30 sentimeter, kali ini banjir mencapai dada orang dewasa. Selain itu, banjir mengakibatkan enam rumah terendam limpahan air Kali Pulo.

    Menurut Fatimah, pejabat dari Kantor Wali Kota Jakarta Selatan sudah pernah berjanji akan meninggikan tanggul dan membuatnya menjadi permanen saat tanggul Jatipadang jebol pertama kali. Namun, hingga tanggul Jatipadang jebol lagi, janji tersebut belum terealisasi.

    Menurut pantauan Tempo, tanggul sementara sudah dibangun ulang. Namun, sama seperti sebelumnya, tanggul tersebut hanya bersifat sementara, yakni terdiri atas karung pasir dan bebatuan cadas yang ditumpuk.

    Tanggul tersebut juga tidak bisa menahan air sepenuhnya. Akibatnya, halaman sebuah taman pendidikan Al-Quran (TPA) masih tergenang air setinggi betis orang dewasa. TPA itu berada sekitar 10 meter dari lokasi tanggul.

    Jika hujan turun deras seperti kemarin, Fatimah khawatir tanggul akan kembali jebol. "Bisa kayak tsunami kalau jebol yang sekarang karena tidak ada temboknya," ujar wanita berusia 53 tahun itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.