Minggu, 27 Mei 2018

Tangerang Klaim 7 Pasien Difteri karena Orang Tua Anti Imunisasi

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakteri difteri disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae yang menyerang faring, laring atau tonsil.

    Bakteri difteri disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae yang menyerang faring, laring atau tonsil.

    TEMPO.CO, Tangerang - Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat, hingga Selasa, 5 Desember 2017, terdapat tujuh pasien difteri yang dirawat. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Liza Puspadewi, ketujuh pasien difteri itu tersebar di enam kecamatan.

    "Jumlah kasus difteri sampai dengan 5 Desember 2017, tujuh orang sudah sembuh semua, dengan angka kematian nol," kata Liza, Rabu, 6 Desember 2017.

    Penyebaran difteri itu terjadi di Kecamatan Pinang, Tangerang, Benda, Cibodas, dan Cipondoh, masing-masing satu kasus, dan di Kecamatan Batuceper dua kasus.
    Baca: Cegah Difteri Meluas, Imunisasi Khusus Bakal Digelar Pekan Depan

    "Masalah yang dihadapi adalah para orang tua tidak mengizinkan putra-putrinya diimunisasi. Orang tuanya anti-vaksinasi," ucap Liza. Padahal imunisasi merupakan program prioritas, yang diberikan secara gratis. Semua anggaran imunisasi dibebankan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (untuk vaksin dan cold chain), juga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (bahan penunjang dan biaya operasional).

    "Kami berupaya keras mencapai target sasaran yang diimunisasi, melakukan sweeping, setelah posyandu dan saat kunjungan rumah (Cageur Jasa)," tutur Liza.

    Selain menjemput bola untuk vaksinasi, Dinas Kesehatan Kota Tangerang melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB), di antaranya komunikasi, informasi, dan edukasi (KEI) di dalam dan di luar gedung, edukasi melalui media cetak (spanduk, poster, leaflet), serta melalui surat edaran kewaspadaan dini ke kecamatan, rumah sakit, dan pusat kesehatan masyarakat.

    Lalu dilakukan penguatan jejaring dan konsolidasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. Upaya lain adalah mengoptimalkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat serta kewaspadaan dini terhadap pasien yang mempunyai gejala klinis, demam, batuk, dan nyeri saat menelan. "Jika terjadi kasus seperti itu, segera rujuk ke rumah sakit," ucap Liza.
    Simak juga: Antisipasi Penyebaran Difteri, Kabupaten Bogor Galakkan Imunisasi

    Dinas Kesehatan, kata Liza, juga melakukan pemeriksaan kontak erat kasus (kontak serumah, kontak lingkungan, dan kontak di sekolah) serta pemeriksaan swab (usap) tenggorokan untuk memastikan kuman yang menjadi penyebabnya.

    Liza menyebut langkah lain penanganan wabah difteri adalah profilaksis untuk kontak erat dengan pemantau minum obat dari tenaga kesehatan puskesmas dan imunisasi Difteri Tetanus/Tetanus difteri (DT/Td). "Pemantauan kontak selama dua kali masa inkubasi. Seluruh biaya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.