Minggu, 27 Mei 2018

Kasus Difteri Jabodetabek Disebut Terparah, Ini Kata Kadis DKI

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi seorang siswi saat mengikuti suntik imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus difteri (Td) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) II Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, 8 Oktober 2015. Vaksin DT di berikan untuk siswa kelas 1 sedangkan Td untuk siswa kelas 2 dan 3. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ekspresi seorang siswi saat mengikuti suntik imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus difteri (Td) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) II Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, 8 Oktober 2015. Vaksin DT di berikan untuk siswa kelas 1 sedangkan Td untuk siswa kelas 2 dan 3. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kasus difteri di Jakarta cukup tinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Dalam setahun ini, ada 22 anak berusia di bawah 10 tahun yang terserang difteri.

    "Salah satu faktor kepadatan penduduk dan penduduk yang keluar masuk," kata Koesmedi Priharto saat dihubungi Tempo, Kamis, 7 Desember 2017.

    Sebelumnya Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh menyatakan kasus kejadian luar biasa difteri yang terparah terjadi di wilayah Jawa Timur. Kasus difteri di provinsi tersebut paling banyak jumlahnya.

    Baca: Dinas Kesehatan DKI: Gejala Difteri Mirip Serangan Flu

    "Dari 95 kabupaten-kota melaporkan kasus difteri, yang terparah Jawa Timur, kedua Jabodetabek, dan Tangerang Banten," kata Subuh dalam keterangannya kepada wartawan di Palembang pada Selasa, 5 Desember 2017.

    Namun lebih lanjut menurut Koesmedi mengatakan jika dilihat dari insiden rate Jakarta rendah atau kecil. Insiden rate maksud Koesmedi merupakan jumlah penduduk yang sakit dibanding jumlah penduduk DKI Jakarta keseluruhan. "Tidak (banyak), kecil lumayan," kata Koesmedi.

    Seluruh pasien difteri di DKI tersebut sudah diobati dan sembuh. Wabah itu berasal dari bakteri Corynebacterium diphtheria, yang penyebarannya cukup cepat melalui udara. 

    Wabah difteri bisa dicegah dengan vaksinasi sejak bayi. Kemudian vaksinasi lanjutan atau boosterdi usia 2 tahun untuk menguatkan vaksin pertama.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.