Momen Tahun Baru, Warga Kampung Trompet Kebanjiran Orderan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perajin menyelesaikan pembuatan terompet kertas di depan pertokoan kawasan Kota, Jakarta, 28 Desember 2016. Para perajin tinggal di depan pertokoan selama berjualan hingga perayaan tahun baru. TEMPO/Fajar Januarta

    Seorang perajin menyelesaikan pembuatan terompet kertas di depan pertokoan kawasan Kota, Jakarta, 28 Desember 2016. Para perajin tinggal di depan pertokoan selama berjualan hingga perayaan tahun baru. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Momen tahun baru 2018 menjadi berkah tersendiri bagi warga Jalan Ros, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kulim, Pekanbaru. Warga di daerah ini kebanjiran orderan trompet yang biasa digunakan masyarakat menjelang pergantian tahun. Tak tanggung-tanggung, setiap kepala keluarga mampu memproduksi trompet sebanyak 8.000-10 ribu buah dengan berbagai macam motif.

    "Model dan ukurannya bervariasi," kata Syamuri, perajin trompet, saat ditemui Tempo di rumahnya, Selasa, 20 Desember 2017.

    Syamuri terlihat sibuk menghias trompet yang sudah dirakitnya. Berbagai model trompet memenuhi setiap sudut ruangan rumahnya. Motif trompet tahun ini cenderung mengikuti model kekinian yang sangat digandrungi kalangan muda. Setiap trompet dihiasi tokoh kartun yang tengah naik daun, seperti Masha and The Bird, Upin Ipin, serta Bobo Boy. Trompet bergambar kartun Pokemon masih diproduksi dalam jumlah banyak, meski terbilang model lama.

    Simak: Putri Duyung Ancol Bersiap Sambut Tahun Baru 2018

    "Untuk trompet bermotif naga, tetap banyak diproduksi karena digemari orang dewasa," ucapnya.

    Syamuri mengaku tidak begitu kesulitan memasarkan trompet. "Kami sudah punya pelanggan sendiri," ujarnya.

    Setiap hari, kata dia, ada saja konsumen yang datang membeli trompet. Kebanyakan pelanggannya merupakan pedagang mainan anak-anak keliling untuk dijual kembali. Untuk konsumen pedagang keliling, Syamuri memberikan harga grosir senilai Rp 3.000-Rp 6.000 sesuai dengan ukuran. "Tapi, kalau eceran, harganya Rp 10 ribu," tuturnya.

    Pria asal Jawa ini mengaku usaha pembuatan trompet merupakan warisan dari orang tuanya yang sudah menetap di Pekanbaru sejak 1996. Hampir setiap tahun, ia memproduksi trompet untuk momen tahun baru. Dengan berjualan trompet, ia mampu memperoleh penghasilan mulai Rp 7 juta hingga Rp 8 juta.

    "Kalau banyak, bisa Rp 10 juta," ujarnya.

    Kebanyakan warga di kampung ini merupakan perantauan dari Pulau Jawa. Permukiman kampung trompet cukup unik. Antara rumah satu dan lainnya cukup rapat dan menyatu, semuanya semi permanen. Semua warga di permukiman tersebut bekerja sebagai pedagang mainan anak-anak. Warga secara bersamaan mulai memproduksi trompet tiga bulan menjelang momen pergantian tahun.

    "Kalau sehari-harinya, kami jualan mainan anak-anak," ucap Indra, perajin terompet lainnya.

    Indra menuturkan telah memproduksi trompet sebanyak 8.000 buah. Tumpukan trompet tampak memenuhi setiap sudut rumahnya. "Pembuatannya sudah dicicil sejak bulan tujuh lalu, sekarang ini kami hanya menunggu pembeli saja," tuturnya.

    Momen tahun baru diakuinya sebagai kesempatan menambah pundi-pundi penghasilan. Sama dengan Syamuri, yang juga tetangganya, pria yang kesehariannya berjualan mainan anak-anak ini bisa menghasilkan lebih Rp 8 juta dari penjualan trompet.

    Trompet tahun baru buah karya warga kampung ini dipasarkan ke berbagai wilayah di Sumatera, seperti Medan, Bukittinggi, juga Padang. "Pemesannya sudah ada, kemudian mereka jual kembali di berbagai daerah," kata Indra.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.