Bekasi Bangun Rumah Sakit Khusus Paru Rp 70 Miliar

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penderita AIDS dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, Jawa Barat, sementara dia juga mengidap penyakit paru-paru kronis, Senin (1/2). Sebanyak delapan pasien AIDS dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. TEMPO/Hamluddin

    Seorang penderita AIDS dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi, Jawa Barat, sementara dia juga mengidap penyakit paru-paru kronis, Senin (1/2). Sebanyak delapan pasien AIDS dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi. TEMPO/Hamluddin

    TEMPO.CO, Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi Jawa Barat mengucurkan dana sebesar Rp 70 miliar untuk membangun rumah sakit khusus pasien penyakit paru-paru. "Sudah mulai dibangun akhir Desember lalu," kata Kepala Bidang Bangunan dan Gedung pada Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan, Kota Bekasi, Inryd Arieswaty, Kamis, 4 Januari 2018.

    Menurut dia, pembangunan gedung rumah sakit empat lantai di Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur tersebut menggunakan anggaran tahun jamak. Ditargetkan, pembangunan rumah sakit yang berada di pinggir Kali Bekasi itu rampung pada akhir tahun ini. "Tahun depan bisa dipakai untuk melayani pasien," kata Arieswaty.

    Menurut dia, pemerintah telah membebaskan lahan seluas 1.533 meter persegi untuk menunjang pembangunan rumah sakit itu. Dengan luas yang ada itu, kata dia, gedung baru tersebut bisa melayani pasien rawat inap hingga 100 orang lebih khusus penderita sakit paru. "Fasilitasnya lengkap, bisa untuk rawat inap," kata dia.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati mengatakan setiap tahun angka suspek penyakit Tuberkulosis (TB) Paru cukup tinggi. Tahun 2014 tercatat sebanyak 9.204 pasien, tahun 2015 sebanyak 12.831 pasien dan tahun 2016 tercatat sebanyak 11.960 pasien.

    Meski tinggi, kata dia, progres penyembuhan penderita penyakit itu cukup baik, grafiknya terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Catatannya, pada tahun 2014, penyembuhan pasien penyakit TB mencapai 77,5 persen, tahun 2015 74 persen, sedangkan 2016 menembus 84. "Target penyembuhan minimal 85 persen," kata dia.

    Ia mengatakan, belum memenuhi target bukan berarti pasien yang berobat meninggal dunia. Melainkan pasien itu belum sembuh total, sehingga harus melakukan pengecekan rutin ke poli paru untuk memantau penyakit yang dideritanya.

    Ratusan pasien penderita penyakit paru tercatat menjalani rawat jalan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Chasbullah Kota Bekasi tiap hari. Bahkan, 20 pasien di antaranya terpaksa masuk daftar pasien rawat inap.

    Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah, Kota Bekasi, Kusnanto Saidi mengatakan Bekasi butuh gedung khusus untuk melayani pasien penyakit paru. Menurut dia, setiap hari hampir 100 orang mengantre berobat di poli paru. "Penanganan juga harus khusus, berbeda dengan penyakit lainnya," kata dia.

    Menurut dia, penanganan pasien penyakit yang menyerang alat pernafasan tersebut juga membutuhkan ruang isolasi. Sebab, penyakit yang menyebar lewat udara tersebut bisa membahayakan pasien lainnya. "Gedung khusus harus dilengkapi dengan bronkospi, poliklinik khusus alergi asma, poliklinik berhenti merokok dan pelayanan pasien Tuberkulosis Paru Multi Drug Resisten (MDR). "Ruangan harus harus steril," kata Kusnanto.

    Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan pembangunan rumah sakit khusus paru untuk memudahkan warganya memperoleh layanan kesehatan penyakit tersebut. "Tidak perlu lagi berobat ke luar daerah, karena nanti sudah ada rumah sakit khusus," kata Rahmat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.