Penataan Tanah Abang, BPTJ Sebut Harusnya Trotoar yang Dilebarkan

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Koalisi Pejalan Kaki melakukan aksi Tamasya Trotoar Tanah Abang Jalan Jati Baru Raya, Jakarta, 29 Desember 2017. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka kampanye penyadaran fungsi trotoar sebagai fasilitas pejalan kaki. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    Koalisi Pejalan Kaki melakukan aksi Tamasya Trotoar Tanah Abang Jalan Jati Baru Raya, Jakarta, 29 Desember 2017. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka kampanye penyadaran fungsi trotoar sebagai fasilitas pejalan kaki. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memberikan tiga saran kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam penataan kawasan Tanah Abang ke depan. Salah satunya disebutkan bahwa seharusnya jalur trotoar dilebarkan.

    Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengatakan sky bridge itu akan menghubungkan pintu selatan Stasiun Tanah Abang dan Blok G Pasar Tanah Abang. Menurut Bambang, keberadaan jembatan itu dapat mencegah kesemrawutan penumpang KRL yang selama ini terpusat di depan stasiun.

    "Selama ini pergerakan orang menyebabkan kemacetan. Nanti orang enggak boleh lagi lewat bawah, tapi harus lewat sky bridge langsung ke pasar," kata dia saat diskusi penataan lalu lintas dan kawasan Tanah Abang di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis, 4 Januari 2018.

    Baca: Dikritik Menhub Soal PKL Tanah Abang, Ini Jawaban Sandiaga Uno

    Bambang mengatakan saran kedua yang diberikan BPTJ adalah peningkatan kapasitas trotoar sepanjang Jalan Jatibaru Raya hingga Kebon Jati.

    Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pihaknya pada Selasa, 2 Januari 2018, tercatat penumpang kereta api yang keluar dari pintu Selatan Stasiun Tanah Abang sebanyak 62 persen lebih memilih berjalan kaki. Jumlah penumpang Stasiun Tanah Abang sendiri mencapai 110 ribu orang per hari.

    "Masalah pejalan kaki adalah jumlah pejalan kaki lebih banyak dibandingkan kapasitas jalur pedestrian (trotoar). Maka itu kami ingin melakukan pelebaran trotoar," kata dia.

    Selain itu, menurut Bambang, perlu ada peningkatan kualitas integrasi angkutan umum yang menghubungkan Stasiun Tanah Abang dengan kawasan Thamrin, Roxy, Kebon Jati, Abdul Muis, dan Harmoni.

    Bambang mengatakan, semenjak Stasiun Gambir tidak lagi menjadi tempat berhenti KRL, penumpang yang menuju kawasan tersebut menumpuk di Stasiun Tanah Abang. Hal yang menjadi masalah, kata Bambang, jumlah kendaraan umum yang tersedia tidak memadai secara kuantitas dan kualitas. Oleh sebab itu, kendaraan umum yang ada perlu diperbaiki.

    Dengan saran tersebut, Bambang mengharapkan akan tercipta konektivitas yang baik antarmoda transportasi. Diharapkan juga tersedia fasilitas pejalan kaki yang ramah bagi semua golongan masyarakat, termasuk pengguna sepeda di Tanah Abang. "Pengguna sepeda juga jadi prioritas kami ke depan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.