Kasus Penyiraman Novel Baswedan, Pelaku Kabur ke Luar Negeri?

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan menggelar aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, 11 Januari 2018. Dalam aksi ke-521 itu mereka meminta Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi kerja Polda Metro Jaya, khususnya Dirkrimum dalam menyidik kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan menggelar aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, 11 Januari 2018. Dalam aksi ke-521 itu mereka meminta Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi kerja Polda Metro Jaya, khususnya Dirkrimum dalam menyidik kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya terus menyelidiki pelaku penyiraman terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, mengatakan, selain di dalam negeri, pihaknya mencari pelaku ke luar negeri.

    "Berkaitan dengan pelaku kabur keluar negeri, masih terus kami cari," ujarnya di Kantor Polda Metro Jaya, Kamis, 11 Januari 2018. Penyiraman air keras terhadap Novel merupakan salah satu kasus yang belum menemui titik terang.

    Sudah delapan bulan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan belum kunjung terungkap. Sebelumnya, Argo menuturkan telah ada sekitar 1.058 laporan masyarakat ke hotline Polda Metro Jaya.

    "Lewat hotline itu, 700 sekian untuk telepon, kemudian juga ada 300 sekian SMS," tuturnya. Dari laporan yang masuk itu, kata Argo, polisi mencoba menghubungi kembali para pelapor guna mendapatkan informasi ihwal pelaku penyiraman terhadap Novel. "Namanya orang telepon, kita cek kembali. SMS pun kita telepon, siapa yang ngirim," ucapnya.

    Namun hingga kini tidak satu pun pelapor yang memberikan informasi berguna tentang kasus yang terjadi pada April 2017 itu. Alih-alih memberikan informasi yang signifikan, sebagian besar pelapor malah mengisengi polisi.

     "Ya, ada yang menanyakan sejauh mana kasus itu, ada juga yang menanyakan apakah perlu paranormal atau tidak, kemudian ada yang cuma iseng juga, 'Oh, benar ini hotline-nya, Pak? Terima kasih'," kata Argo.

    Kendati kerap ditawari paranormal, Argo menuturkan polisi tidak tertarik dengan tawaran itu. "Enggaklah, polisi kan hanya sesuai dengan bukti di lapangan," tuturnya.

    Penyiraman air keras terhadap Novel terjadi pada 11 April 2017 dan diduga dilakukan dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Penyerangan terjadi ketika Novel pulang seusai salat subuh di Masjid Al-Ikhsan dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    Sketsa wajah orang terduga penyerang Novel dibuat Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Pusinafis) Polri bersama Australian Federal Police (AFP). Bahannya diambil dari rekaman closed-circuit television (CCTV) di tempat kejadian. Penyidik juga telah memeriksa 66 saksi.

    Argo menuturkan, selain terus mengusut dan menyebar sketsa wajah, polisi terus mengevaluasi efektivitas layanan hotline untuk mencari pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan. "Sampai sekarang masih belum mendapatkan informasi yang signifikan, tapi penyidik masih tetap berjalan, bekerja untuk mencari siapa, sih, pelakunya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.