Anies Baswedan Diminta Buka Jalan, PKL Tanah Abang Pasrah

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengunjungi lokasi penataan pedagang kaki lima (PKL) di jalan Jatibaru Raya Tanah Abang, Jakarta, 26 Desember 2017.  Sandiaga mengenakan pakaian lari berwarna putih. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengunjungi lokasi penataan pedagang kaki lima (PKL) di jalan Jatibaru Raya Tanah Abang, Jakarta, 26 Desember 2017. Sandiaga mengenakan pakaian lari berwarna putih. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diminta polisi dan sejumlah sopir angkot membuka kembali Jalan Jatibaru di depan Stasiun Tanah Abang bagi kendaraan bermotor. Pedagang kaki lima atau PKL yang berjualan di dua jalur jalan tersebut pasrah.

    “Kalau kami ikut yang terbaik saja menurut pemerintah, termasuk kalau harus dipindahkan lagi," ujar seorang PKL, Nurahmaeni, kepada Tempo, Selasa, 23 Januari 2018.

    Selama berdagang di tenda gratis di Jalan Jatibaru itu, Nurahmaeni, 34 tahun, merasa lebih nyaman daripada sebelumnya. Meski peningkatan penjualannya tidak begitu signifikan.

    Baca juga: Ini Tuntutan Sopir Angkot kepada Anies Baswedan Soal Tanah Abang

    ADVERTISEMENT

    "Meningkat sedikit," ucapnya enggan menjelaskan lebih detail. Sebelumnya, dia berdagang di trotoar dan harus kucing-kucingan dengan Satuan Polisi Pamong Praja.

    Dia mengakui, Jalan Jatibaru sebenarnya memang diperuntukkan bagi kendaraan. "Memang sih jalanan kan sebenarnya buat kendaraan," tuturnya. "Kami ikut kebijakan pemerintah saja."

    Menurut pantauan Tempo pagi hari ini, di putaran Jalan Jatibaru yang menjadi titik awal penutupan jalan memang terkadang tersendat lantaran banyaknya angkot yang berhenti mengambil penumpang.

    Rudianto, 24 tahun, pedagang pakaian di trotoar dekat titik penutupan, mengatakan kepadatan di sana terjadi pada waktu-waktu tertentu, misalnya pagi hari.

    "Karena angkot mengambil penumpang," ucapnya. Namun, menjelang siang hari, ujar dia, lalu lintas di sana kembali ramai lancar.

    Pria asal Tangerang itu menilai kepadatan di Tanah Abang merupakan permasalahan yang pelik dan sulit diakhiri. Alasannya, banyak pedagang yang sudah menggantungkan nasibnya di sana. "Saya juga tidak bakal berhenti berdagang di sini."

    Pria yang telah menjadi PKL selama satu tahun itu menuturkan dia tidak berdagang di kios Pasar Tanah Abang lantaran harga sewanya selangit. "Puluhan juta itu sewanya," ujarnya.

    Sementara itu, Alif, 54 tahun, yang berdagang tak jauh dari Rudianto, menuturkan, meski kini akses pejalan kaki lebih difasilitasi, peningkatan keuntungannya tidak begitu signifikan.

    "Kalau ada langganan, bisa Rp 1,5 juta sehari," katanya. "Tapi, kalau kayak kemarin, seharian masak cuma Rp 150 ribu."

    Jadi dia merasa berat bila harus membayar sewa untuk berdagang di kios dalam Pasar Tanah Abang. Sedangkan seorang PKL di kawasan tenda, Fauzan, 23 tahun, enggan beranjak dari sana lantaran sudah nyaman dan cukup membawa keuntungan. "Saya enggak mau pindah dari sini."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.