Gempa di Laut Banten, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keramik yang berjatuhan di Gedung Dibaleka Kompleks Kantor Walikota Depok akibat gempa bumi, 23 Februari 2018. Tempo/Irsyan

    Keramik yang berjatuhan di Gedung Dibaleka Kompleks Kantor Walikota Depok akibat gempa bumi, 23 Februari 2018. Tempo/Irsyan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Moch Riyadi mengatakan gempa dengan kekuatan Magnitudo 6,1 yang baru saja terjadi tidak berpotensi menyebabkan Tsunami.

    "Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi berkekuatan M=6,1 terjadi dengan koordinat episenter pada 7,23 LS dan 105,9 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 43 km arah selatan Kota Muarabinuangeun, Kabupaten Cilangkahan, Propinsi Banten pada kedalaman 61 km," kata Moch Riyadi dalam keterangan tertulis, Selasa, 23 Januari 2018.

    Selasa, 23 Januari 2018, pukul 13:34:53 WIB, wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa diguncang gempabumi tektonik.

    Menurut Riyadi dampak gempabumi yang digambarkan oleh peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan berpotensi dirasakan di daerah Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, II SIG-BMKG (IV-V MMI).

    Gempabumi selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara ini termasuk dalam klasifikasi gempabumi berkedalaman dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempang Eurasia.

    Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan gempa susulan berpotensi terjadi. Gempa susulan akan lebih lemah, namun Mulyono belum bisa memastikan kekuatan gempa susulan. "Ada(potensi gempa susulan), tapi kekuatan melemah," kata Mulyono saat dihubungi, Selasa.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komitmen Pengelolaan Gambut Lestari di Lahan Konsesi

    Komitmen Pengelolaan Gambut Lestari di Lahan Konsesi