Fakta Baru: Jalan Jatibaru Raya Ditutup, Kemacetan Tambah Parah

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan tenda pedagang kaki lima berdiri di sepanjang jalur depan Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Jumat 22 Desember 2017. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan, ruas jalan di depan Stasiun Tanah Abang ditutup sejak pukul 08.00-18.00. TEMPO/Subekti.

    Ratusan tenda pedagang kaki lima berdiri di sepanjang jalur depan Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Jumat 22 Desember 2017. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan, ruas jalan di depan Stasiun Tanah Abang ditutup sejak pukul 08.00-18.00. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan pemerintah DKI Jakarta menutup Jalan Jatibaru Raya ternyata telah menambah keruwetan lalu lintas di Tanah Abang. Waktu tempuh kendaraan yang melintas di kawasan itu bertambah lama akibat kemacetan yang semakin parah. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan data mutakhir Jakarta Smart City terkait dengan kondisi lalu lintas Jakarta.

    Berdasarkan rilis Unit Pelaksana Teknis Jakarta Smart City diketahui, pada pekan kelima seusai penutupan Jalan Jatibaru, lalu lintas di Tanah Abang melambat 263 detik. Kenyataan ini berbeda dengan klaim Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno sebelumnya.

    Sandiaga pernah menyatakan, seusai penutupan Jalan Jatibaru pada 22 Desember lalu, kepadatan lalu lintas di sekitar Tanah Abang turun drastis. “Bukan sulap, bukan sihir, tapi kenyataan, jumlah kemacetan per hari di kawasan Tanah Abang turun signifikan,” kata Sandiaga awal Januari lalu. Kala itu, Sandiaga menyebutkan, pada pekan pertama seusai penutupan, penurunannya sekitar 56 persen.

    Faktanya, perlambatan perjalanan di sekitar Tanah Abang pada pekan kelima meningkat 5 persen dibanding pada pekan keempat seusai penutupan jalan. Dibandingkan dengan periode sebelum penutupan, angka itu meningkat 12 persen. Perlambatan terutama terjadi di terowongan Tanah Abang dan Jalan KH Mas Mansyur.

    Jakarta Smart City menghimpun data melalui aplikasi Waze. Laporan yang masuk antara lain berbunyi “kemacetan tinggi” dan “kemacetan tidak bergerak” di titik sekitar Jalan Jatibaru. Kemacetan tinggi dilaporkan terjadi di Jalan Cideng Timur, jalan layang Cideng, dan Jalan KH Mas Mansyur. Adapun laporan kemacetan tidak bergerak terjadi di Jalan KH Mas Mansyur.

    Pada pekan kelima penutupan Jalan Jatibaru Raya, laporan tentang kemacetan lalu lintas meningkat 28 persen dibanding pada pekan keempat. Dibandingkan dengan periode sebelum jalan ditutup, jumlah laporan juga meningkat 12 persen. “Memang ada peningkatan 12 persen,” ujar Sandiaga, Senin, 29 Januari 2018.

    Sebelumnya, Sandiaga mengklaim bus Transjakarta Tanah Abang Explorer yang terintegrasi dengan Stasiun Tanah Abang efisien mengurangi kemacetan. Sejak diluncurkan bersamaan dengan penutupan Jalan Jatibaru Raya, bus itu sudah mengangkut 19 ribu orang.

    Jumat pekan lalu, Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya menyatakan penutupan Jalan Jatibaru menimbulkan kemacetan di lokasi lain. Imbasnya terlihat dari Jalan Fachrudin sampai Tomang dan dari Slipi sampai Tanah Abang. Direktorat menyebutkan kepadatan lalu lintas meningkat sekitar 60 persen. Direktorat Lalu Lintas juga meminta pemerintah DKI mengembalikan fungsi Jalan Jatibaru Raya.

    Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah menuturkan, pekan ini, instansinya akan memaparkan hasil evaluasi atas kondisi lalu lintas di sekitar Tanah Abang terkait dengan penutupan Jalan Jatibaru Raya. Dinas akan mengundang polisi untuk membahas hasil evaluasi tersebut. Dalam pertemuan yang sama, kata Andri, Dinas juga akan mengundang kalangan akademikus.

    M. JULNIS FIRMANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.