Naturalisasi Sungai, Anies Baswedan: Nanti Ada Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak bermain di Sungai Ciliwung saat debit air menyusut di Kalimulya, Depok, 13 September 2017. Musim kemarau yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober 2017 itu mengakibatkan debit air Sungai Ciliwung menyusut dan dimanfaatkan warga dan anak-anak untuk beraktivitas di sekitar aliran sungai. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Sejumlah anak bermain di Sungai Ciliwung saat debit air menyusut di Kalimulya, Depok, 13 September 2017. Musim kemarau yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober 2017 itu mengakibatkan debit air Sungai Ciliwung menyusut dan dimanfaatkan warga dan anak-anak untuk beraktivitas di sekitar aliran sungai. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum bersedia menjelaskan konsep naturalisasi sungai yang dia sebut sebagai salah satu solusi banjir di Jakarta. "Nanti, itu ada penjelasannya, enggak bisa dijelaskan dalam hitungan detik seperti ini," kata Anies Baswedan di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta Utara, Sabtu, 10 Februari 2018.

    Konsep naturalisasi sungai pertama kali dilontarkan Anies Baswedan saat mengunjungi kawasan Pluit, Jakarta Utara, Rabu, 7 Februari 2018. Saat itu, Anies mengatakan naturalisasi sungai dapat menjadi solusi banjir sekaligus mempertahankan ekosistem sungai. "Bagaimana sungai itu bisa mengelola air dengan baik, bagaimana mengamankan air tidak melimpah, tapi juga ekosistem sungai dipertahankan," ujar Anies.

    Istilah yang digunakan Anies dalam menyebut penataan kawasan sungai di Jakarta itu, sedikit berbeda dari istilah yang sering digunakan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya. Pada era Gubernur Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, istilah yang sering digunakan adalah normalisasi sungai. Istilah normalisasi sungai merujuk pada upaya mempercepat laju aliran air sungai menuju laut dengan jalan memperlebar dan membeton pinggiran sungai tersebut.

    Koordinator Ruang Jakarta, Sudirman Asun, mengatakan konsep naturalisasi dengan normalisasi sungai memang memiliki perbedaan. Menurut Sudirman, konsep naturalisasi yang disebut Anies Baswedan memiliki kelebihan dibanding normalisasi sungai. Naturalisasi sungai, kata dia, adalah upaya menciptakan sungai hayati, yakni mengganti konstruksi beton dengan vegetasi dan bebatuan alami.

    Menurut Sudirman, sungai alami punya berbagai keuntungan. Ia mengatakan sungai alami dapat menjadi tempat untuk menampung air sehingga memperlambat aliran sungai dari hulu ke hilir. Dengan begitu, potensi banjir di bagian hilir akan diminimalkan karena sebagian air telah diserap ke tanah.

    Selain sebagai area untuk menampung air, Sudirman mengatakan, sungai alami berfungsi menangkap sedimen yang dialirkan dari kawasan Puncak, Bogor. Dengan sungai alami, sedimen tersebut dapat ditampung dan tidak menimbulkan pendangkalan sungai.

    “Makanya kalau sungai banjir kita suka mengeluarkan lumpur. Kalau dibeton itu semua langsung di palung sungai sehingga mengakibatkan pendangkalan hebat,” ujar Sudirman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.