Kabar Terakhir Biksu Legok Korban Persekusi

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi persekusi, bullying. Shutterstock

    Ilustrasi persekusi, bullying. Shutterstock

    TEMPO.CO, Tangerang - Biksu Mulyanto Nurhalim, seorang ulama Budha di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, menjadi korban persekusi pada Senin, 5 Februari 2018.

    Rumahnya di Kampung Kebon Baru RT 01/01, Desa Babat, Kecamatan Legok, diserbu sekelompok warga Babat lantaran curiga dijadikan tempat ibadah. Musyawarah warga bersama para pimpinan kecamatan telah digelar pada Rabu, 7 Februari 201, dan dihasilkan titik temu yang baik.

    "Sampai Minggu siang ini, situasi aman, Biksu juga sudah beraktifitas seperti biasa," kata Kepala Polsek Legok Ajun Komisaris Murodih kepada Tempo hari ini, Minggu, 11 Februari 2018.

    BacaSejoli Diarak Bugil, Ketua RT di Tangerang Tersangka Persekusi

    Murodih menerangkan, Biksu Mulyanto adalah warga yang telah lama menetap di Kampung Kebon Baru. Namun, warga sekitar selama ini tidak begitu paham dengan aktivitas Mulyanto yang ternyata seorang Biksu umat Budha.

    Mulyanto yang selama ini banyak berdiam diri di rumahnya, selalu diantarkan makanan oleh umatnya yang datang dari luar maupun di sekitar Legok. "Nah, ketika ada tamu yang mengantar makanan, oleh Biksu didoakan dan doanya bersama-sama," ucap Murodih.

    Kegiatan doa bersama tersebutlah yang membuat warga menduga Mulyanto menyebarluaskan ajaran Budha. Awalnya, beredar kabar sering ada kegiatan ibadah Agama Budha dan perkumpulan umat di kediaman Mulyanto.

    Puncaknya, warga sekitar mendatangi kediaman Mulyanto pada Senin, 5 Februari lalu. Warga menolak kebaktian umat Budha yang antara lain dengan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat. "Warga tidak menerima kehadiran Biksu di Desa Babat yang dianggap akan mensyiarkan Agama Budha atau mengajak orang untuk masuk ke Agama Budha," tutur Murodih.

    Menyikapi penolakan warga yang mengarah persekusi, Murodih menggelar rapat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Legok dari Camat, Danramil, Kepala Desa, MUI, dan tokoh agama di Legok pada Rabu, 7 Februari 2018, di Kantor Kecamatan Legok.

    Menurut dia, dari pertemuan tersebut akhirnya diketahui bahwa telah terjadi kesalahpahaman. "Mulyanto tidak mengajarkan agama Budha, tapi lebih menerima tamu yang mengantarkan makanan untuknya, karena dia Biksu yang kerap berpuasa."

    Romo Kartika, pemuka agama Budha yang hadir dalam pertemuan, mengakui jika kesalahpahaman ini terjadi karena para biksu muda kurang pengalaman dan belum bersosialisasi dengan masyarakat. Romo Kartika memastikan rumah Biksu Mulyanto  tidak akan dibangun tempat ibadah vihara atau kelenteng. 

    Murodih mengatakan, masih dalam rapat yang membahas persekusi, Ketua MUI Legok KH Odji Madroji berpendapat bahwa di Desa Babat sudah sering terjadi yang awal mulanya tempat tinggal namun lama-kelamaan menjadi tempat Ibadah. Namun, jika sudah jelas rumah Biksu Mulyanto tak akan dijadikan tempat ibadah maka masyarakat Babat bisa menerimanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.