Cerita Pekerja Tentang Shift Pekerjaan di Proyek Tol Becakayu

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Masyarakat melihat Tiang Girder Tol Bekasi-Cawang Kampung Melayu yang roboh di Jakarta,20 Februari 2018. Kejadian terjadi pada pukul 03.00 WIB dan 7 orang pekerja  luka tertimpa tiang Girder.Tempo/Fakhri Hermansyah

    Sejumlah Masyarakat melihat Tiang Girder Tol Bekasi-Cawang Kampung Melayu yang roboh di Jakarta,20 Februari 2018. Kejadian terjadi pada pukul 03.00 WIB dan 7 orang pekerja luka tertimpa tiang Girder.Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Salah satu pekerja proyek Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) Dede, 42 tahun, menceritakan sistem dan pembagian shift kerja di proyek itu. Dede baru bekerja sekitar satu bulan sebelum terjadinya kecelakaan kerja yang mengakibatkan teman-temannya terluka.

    Dede bekerja pada bagian pembuatan cetakan konstruksi alias bekisting itu mengatakan setiap harinya, dia dan kawan-kawannya mendapat jadwal kerja pukul 08.00-16.00 di proyek Tol Becakayu. Apabila diperlukan lembur, maka dia bekerja sekitar dua sampai tiga jam lagi hingga sekitar pukul 18.00.

    "Kalau cuaca bagus, bisa bekerja sampai pukul 22.00. Jadi tergantung cuaca," ujar Dede yang datang ke Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia untuk menjenguk rekan-rekannya yang menjadi korban kecelakaan kerja itu, Rabu, 21 Februari 2018. Apabila bekerja hingga pukul 22.00, kata Dede, maka dirinya akan dihitung dua hari bekerja.

    Baca : Ini Kondisi Terkini 6 Korban Kecelakaan Tol Becakayu

    Dede mengaku kerap bekerja ekstra waktu sekitar lima sampai enam hari dalam dua pekan terakhir ini. Namun, menurut dia, apabila pada hari kerjanya ada pekerjaan pengecoran, maka dia harus siap untuk ikut bekerja.

    Pekerjaan pengecoran, kata Dede, waktunya tidak menentu, bisa dilakukan pada pagi hari, siang, maupun malam asalkan secara teknis sudah siap. "Tergantung pelaksana," tutur Dede lagi.

    Mengenai kecelakaan yang terjadi di proyek yang tengah di garapnya itu pada Selasa dinihari lalu, dia sangat tidak menyangkanya.

    Kecelakaan kerja terjadi pada Selasa dinihari, 20 Februari 2018. Saat itu, cetakan kepala kolom pada proyek Tol Becakayu di Jalan DI Panjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, ambrol. Akibatnya, tujuh orang pekerja menjadi korban. Saat ini, enam pekerja telah dirawat di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, sementara seorang lagi dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

    Pada peristiwa itu, Dede dan teman-teman telah memastikan bahwa alat-alat penunjang keamanan telah siap dan dikenakan. "Kalau enggak ada enggak boleh kerja," ujar dia. Dan Dede bersyukur kondisi kawan-kawannya kini sudah membaik. "Sudah ada perlindungan dari yang Maha Kuasa, sudah sehat. Tinggal pulihnya."

    Saat ini, PT Waskita Karya (Persero) tengah mengkaji rencana penambahan waktu kerja (shift) para pekerja untuk mencegah terulangnya kecelakaan konstruksi. Hal ini dilakukan setelah kecelakaan kembali terjadi pada proyek jalan tol ruas Bekasi, Cawang, Kampung Melayu (Becakayu).

    Kepala Divisi III Waskita Karya Dono Parwoto memaparkan saat ini perusahaan menerapkan dua shift selama delapan jam kerja serta waktu lembur tiga sampai empat jam yang dimulai pada pukul 16.00 WIB.

    "Kemarin ada dua shift, namun sekarang kami kaji apakah perlu menjadi tiga shift," ujarnya dalam konferensi pers di lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Becakayu, Jakarta Timur, Selasa, 20 Februari 2018.

    Selama ini dalam dua shift itu, kata Dono, dimulai dari jam 4 sore, lalu istirahat kemudian lembur. "Shift kedua dimulai jam 8 malam sampai pagi, karena pengecoran beton itu tidak boleh berhenti," tutur Dono tentang shfit kerja di proyek Tol Becakayu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.