Ujaran Kebencian, Pendeta Abraham: Saya Lebih Ganteng dari Rizieq

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendeta Abraham Ben Moses alias Saifuddin Ibrahim, 52 tahun, menjalani persidangan kasus ujaran kebencian  di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin, 26 Februari 2018. Tempo/Ayu Cipta

    Pendeta Abraham Ben Moses alias Saifuddin Ibrahim, 52 tahun, menjalani persidangan kasus ujaran kebencian di Pengadilan Negeri Tangerang, Senin, 26 Februari 2018. Tempo/Ayu Cipta

    TEMPO.CO, Tangerang - Pendeta Abraham Ben Moses alias Syaifuddin Ibrahim, 52 tahun, terdakwa ujaran kebencian yang kasusnya sedang disidang di Pengadilan Negeri Tangerang, pernah memposting pernyataan di media sosial Facebok yang menyinggung umat, ulama, nabi, dan agama Islam.

    "Apa yang dia posting menjadi alat bukti. Saat ini persidangan masih bergulir di Pengadilan Negeri Tangerang. Pekan depan kami agendakan pemeriksaan saksi," kata Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kota Tangerang, Agus Kurniawan, kepada Tempo, Selasa, 27 Februari 2018.

    Salah satu postingannya, kata Agus, Abraham menulis di Facebook tanggal 12 November 2017 dengan judul “Sayembara 11.” Menurut berkas dakwan yang dikutip Agus, dari sembilan paragraf tulisan yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), pada paragraf keenam Abraham menulis: “Jadi orang Yahudi dan Kristen dan Musyrik masuk neraka abadi dan seburuk-buruknya makhluk. Padahal saya lebih ganteng daripada Habib Rizieq,” kata Agus mengutip tulisan Abraham.

    Habib Riziq yang dimaksud Agus adalah Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam (FPI) yang  kini berada di Arab Saudi sejak 29 Mei 2017. Rizieq ke Arab Saudi setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pornografi.

    Abraham, pria kelahiran Jakarta ini adalah seorang pendeta. Sebelumnya dia beragama Islam. Itu ditunjukan dari postingan yang menyebutkan Abraham hafal Al-Quran dan mengaku sebagai seorang kiai.

    Dalam postingan yang dijadikan alat bukti dan masuk materi dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah tulisan Abraham: “Nabi Muhammad melanggar hak Al-Quran, saya tinggalkan Islam saya ini kyai hafal Alquran. Intinya saya mau ajak masuk Kristen," kata Abraham di akun Facebooknya.

    Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung, R. Carolina Fitri Sitinjak, telah mendakwa terdakwa Abraham dengan sejumlah pasal. Dia dinyatakan telah melakukan ujaran kebencian dan menista agama Islam dengan menghina Nabi Muhammad.

    Perkara penistaan agama itu sedang bergulir di Pengadilan Negeri Tangerang. Ada lebih dari lima penasihat hukum yang mendampinginya Senin, 26 Februari 2018. Persidangan dipimpin Ketua Pengadilan Negeri Tangerang Muhamad Damis.

    Tim Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kota Tangerang yang mendampingi Jaksa Carolina, Muhamad Erlangga mengarakan bahwa sebelum penangkapan dilakukan tim Bareskrim Mabes Polri, penyidik Bareskrim sudah memantau postingan Abraham melalui Chanel YouTube dan akun Facebook.

    Pada 26 November 2017, tiga penyidik, yakni Eko Yudha Prasetya, Fakih Nur Rahman, dan Yoga Dwi Cahya Sejati menemukan akun atas nama Saifuddin Ibrahim memposting pernyatan bermuatan permusuhan/penodaan agama Islam. Postingan itu diunggah pada 12, 24, dan 26 November 2017. Selain itu ada juga yang diunggah di YouTube.

    Tak lama dari pantauan tim Siber Bareskrim, tiga anggota Bareskrim, yakni Dukut Pamungkas dan Ganda Putra Rezeki Sihombing menangkap Abraham di rumahnya di Buaran Indah.

    Terdakwa Abraham Ben Moses dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Dalam pasal itu disebutkan setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

    Pada pasal itu diatur pula ancaman hukuman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar bagi penyebar ujaran kebencian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.