Cara PKL Melawai Tarik Perhatian Sandiaga Uno agar Tak Digusur

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pedagang nekad berjualan di atas trotoar dan drainase di Jalan Sunan Ampel, Melawai, Jakarta Selatan, 27 Februari 2018. Tempo/Imam Hamdi

    Para pedagang nekad berjualan di atas trotoar dan drainase di Jalan Sunan Ampel, Melawai, Jakarta Selatan, 27 Februari 2018. Tempo/Imam Hamdi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Sunan Ampel, Melawai, Jakarta Selatan, berinisiatif membuat spanduk OK-OCE untuk menarik perhatian Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno. Sekitar 60 pedagang di trotoar Jalan Sunan Ampel itu sepakat membuat spanduk tersebut agar terhindar dari penertiban Satuan Polisi Pamong Praja. 

    Seorang pedagang, Purwadi, 50 tahun, mengatakan para PKL berinisiatif membuat spanduk agar pemerintah mau membina mereka. Alasannya, PKL yang berjualan di trotoar dan drainase Melawai selama ini kerap kucing-kucingan dengan petugas. 

    "Kami ingin mencari solusi," kata Purwadi, yang berjualan jam tangan dan kacamata di Jalan Sunan Ampel, Selasa, 27 Februari 2018.

    Baca: Sandiaga Uno Bela PKL Melawai yang Akan Digusur Pak Camat

    Taktik para pedagang itu ternyata berhasil menarik perhatian Sandiaga Uno. Kemarin, Sandiaga memerintahkan Lurah Melawai  menata para PKL tanpa perlu relokasi.

    Sebelumnya, Purwadi menuturkan pedagang membuat spanduk OK-OCE untuk menarik perhatian pemerintah DKI. PKL Melawai itu enggan dipindahkan ke Blok S dan berharap bisa tetap berjualan di Jalan Sunan Ampel di belakang kompleks PLN.

    Para pedagang sebenarnya sudah bertemu dengan kelurahan untuk meminta izin berjualan. "Kelurahan sudah membolehkan, tapi ada embel-embel untuk membeli tenda," ujar Purwadi.

    Baca: Penyebab Sandiaga Uno Angkat Tangan Soal PKL di Trotoar Sudirman

    Pada pedagang mengklaim sudah berjualan di jalan tersebut sejak 20 tahun lalu. Sebelumnya, para pedagang memang pernah dijanjikan akan disediakan tempat untuk berjualan.

    Setiap PKL, kata dia, membayar uang kebersihan dan keamanan Rp 10 ribu per hari. Uang tersebut dikumpulkan untuk membayar petugas kebersihan yang biasa menyapu sampah di sekitar Jalan Ampel. "Kami berani jualan di sini karena memang bukan jalan protokol," ucap Purwadi.

    Purwadi menuturkan pemasangan spanduk OK-OCE oleh para pedagang sudah hampir satu bulan. Namun, karena ada sorotan dari media, akhirnya PKL yang berjualan di trotoar dan drainase itu mencopot spanduk OK-OCE.

    Baca: Pedagang di Jalan Sudirman Minta Tempat seperti PKL Tanah Abang

    Petugas parkir di Jalan Sunan Ampel, Min, mengatakan, pada Selasa siang ada petugas yang datang dan meminta spanduk tersebut dicopot. Para PKL, kata dia, dua bulan lalu sempat berhenti berdagang karena dijaga petugas Satpol PP. "Sempat sebulan vakum, tapi sudah lebih dari tiga minggu berjualan lagi di sini," tuturnya. "Memang sering kucing-kucingan. Sudah puluhan tahun memang mereka jualan di sini."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.