Warga Muara Angke Sebut Sampah Dipengaruhi Angin Barat

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan oranye mengangkat sampah di hutan mangrove Muara Angke, Jakarta Utara pada Senin, 19 Maret 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Pasukan oranye mengangkat sampah di hutan mangrove Muara Angke, Jakarta Utara pada Senin, 19 Maret 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengeruk sampah yang menggunung di kawasan Hutan Mangrove, Ecomarine Muara Angke, Jakarta Utara, sejak Sabtu, 17 Maret 2018. Namun hamparan sampah itu bagai tak ada habisnya.  

    Waran, warga Kampung Empang, Muara Angke, mengatakan sampah-sampah yang menggunung tersebut sudah mulai terlihat sejak awal 2018. "Dua bulanan ini paling parah Mas, karena pengaruh angin barat yang bertiup dari laut," kata Waran, pria berumur 65 tahun yang bekerja sebagai nelayan, Senin, 20 Maret 2018.  

    Waran mengaku, awal Februari hingga Maret ini adalah waktu-waktu yang paling parah. Sebab gelombang yang tinggi menyebabkan sampah-sampah plastik terbawa hingga ke wilayah tersebut.

    Baca: Dituding Jadi Penyumbang Sampah di Muara Angke, Ini Tanggapan Bekasi

    Sampah yang teronggok di sepanjang pantai sekitar 50 meter dengan lebar 7-10 meter itu menjorok ke laut. Sampah-sampah yang dekat dengan bibir pantai terlihat sudah mulai mengering dan mengeras.

    Wilayah tersebut seharusnya menjadi area konservasi penanaman mangrove dan juga budi daya ikan bandeng. Namun dengan adanya sampah tersebut proses konservasi dan budi daya menjadi terhambat.

    Abdul Goffur, 50 tahun, warga Kampung Empang yang lain, membenarkan cerita Waran. Menurut Goffur, setiap musim angin barat, sampah selalu terkumpul memenuhi wilayah itu.

    Baca: Atasi Sampah di Laut, Tangerang: Baru Diangkut Sudah Ada Lagi

    Goffur juga mengatakan sampah-sampah tersebut berasal dari aliran sungai yang bermuara ke Angke. "Sampah yang menggunung itu awalnya tertambat di aliran dekat muara sungai. Tapi ketika gelombang lagi tinggi sampahnya hanyut sampai ke situ (Ecosubmarine Muara Angke)," kata dia.

    Menurut Goffur, warga sekitar memanfaatkan sampah yang menggunung untuk dijual lagi. Memulung sampah, kata dia, merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup ketika gelombang laut menyebabkan banyak nelayan tak melaut. 

    "Apalagi usai gelombang tinggi yang sering datang menyebabkan banyak nelayan tak melaut, biasanya banyak yang ngambilin sampah buat dijual lagi," kata Goffur, yang rumahnya hanya berjarak sepuluh meter dari lokasi pengerukan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.