Sandiaga Uno: Jakarta Bisa Jadi Megapolitan Terbesar di Dunia

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno saat peninjauan pembangunan tanggul laut National Capital Integrated Coast Development (NCICD) di kawasan Cilincing, Jakarta, 8 Desember 2017. Tempo/Ilham Fikri

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno saat peninjauan pembangunan tanggul laut National Capital Integrated Coast Development (NCICD) di kawasan Cilincing, Jakarta, 8 Desember 2017. Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno menyebutkan bahwa Jakarta dapat menjadi kota megapolitan terbesar di dunia pada 2045.

    "Tepat di umur yang ke-100 dengan 35 sampai 40 juta penduduk," ujar Sandiaga Uno saat memberikan sambutan dalam acara Southeast Asian Symposium di Universitas Indonesia, Sabtu, 24 Maret 2018.

    Baca: Berkunjung ke Kota Tua, Sandiaga Uno Sedih Dicuekin PKL

    Menurut Sandiaga Uno, Jakarta dapat menjadi kota megapolitan terbesar dengan melihat pertumbuhan dan tingkat urbanisasi yang terjadi. Hal itu, kata dia, seperti yang diprediksi oleh sebagian ekonom dan peneliti.

    Sandiaga Uno mengatakan Jakarta dapat menjadi kota megapolitan, jika masyarakat serta lingkungan mendukung. Oleh karena itu, kata dia, ekonomi Jakarta harus siap untuk mencapai itu.

    "Kita harapkan Jakarta siap," katanya.

    Nantinya, Sandiaga melanjutkan, 75 persen dari populasi dunia akan tinggal di perkotaan. Selain itu, 95 persen ekonomi di dunia berada di perkotaan.

    Sandiaga Uno menambahkan, Jakarta mempunyai tantangan untuk menjadi kota megapolitan. Dia berharap Simposium Southeast Asian ini dapat menelurkan pemikiran-pemikiran baru yang dapat mendukung itu.

    "Dan kami Pemprov DKI sangat siap bergabung dan mengeksekusi di bidang research," ucap Sandiaga Uno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ratusan Ribu Orang Mengalami Gangguan Pernafasan Akibat Karhutla

    Sepanjang 2019, Karhutla yang terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan tak kunjung bisa dipadamkan. Ratusan ribu jiwa jadi korban.