Sandiaga Uno Sebut Air Berbusa di Marunda dari Limbah Cucian

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menebar jala di aliran Banjir Kanal Timur yang tercemar limbah busa di kawasan Marunda, Jakarta, 23 Januari 2018. TEMPO/Ilham Fikri

    Warga menebar jala di aliran Banjir Kanal Timur yang tercemar limbah busa di kawasan Marunda, Jakarta, 23 Januari 2018. TEMPO/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menduga kondisi air berbusa di Kanal Banjir Timur di kawasan Marunda, Cilinding disebabkan oleh limbah cucian rumah tangga.

    "Makanya berbusa air yang di Marunda," ujar Sandiaga Uno di Masjid At Taqwa, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Sabtu, 24 Maret 2018.

    Sandiaga Uno mengatakan kasus air berbusa di Marunda yang diduga berasal dari limbah cucian rumah tangga perlu banyak dicermati. Sebab, kata dia, bisa jadi hal tersebut dikarenakan usaha laundry yang ada di sana.

    Baca: Anies Baswedan Terima Laporan Soal Limbah Busa di KBT Marunda

    "Sekarang banyak laundry-laundry yang ada di perumahan. Nah ini yang tidak terolah dengan baik limbahnya," katanya.

    Sandiaga Uno berencana menemui pengusaha laundry untuk mengecek hal tersebut. Hal itu dilakukan agar limbah-limbah laundry dapat diolah dan tak dibuang sembarangan. "Kami coba bicara, Rabu saya ketemu mereka," ucapnya.

    Sandi menduga air di Marunda tercemar oleh limbah laundry bukan tanpa sebab. Menurut dia, banyak usaha laundry dilakukan di perumahan di beberapa wilayah seperti Jakarta Utara dan Jakarta Timur.

    "Karena tidak semua rumah tangga mencuci sebanyak itu, tapi mungkin ada satu sampai dua lokasi di perumahan," tuturnya.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah menerima laporan soal limbah busa di aliran Kanal Banjir Timur, kawasan Marunda, Jakarta Utara. Anies mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup menyebut ada dua sebab melimpahnya busa di perairan itu.

    Pertama, kata dia, busa muncul karena jeram yang diakibatkan perbedaan tinggi muka air di pintu kanal dan muara laut.

    "Sehingga terjadi grojokan air yang berefek pada pengadukan," kata Anies di Kampung Sunter Jaya, Jakarta Utara, Sabtu, 24 Maret 2018.

    Kedua, tutur Anies, Dinas Lingkungan Hidup juga menemukan limbah deterjen dalam volume besar. Dari hasil pantauan sementara, limbah deterjen itu diketahui berasal dari rumah tangga yang ada di sekitar perairan itu. "Dari pantauan sementara belum ditemukan daerah industri," ujarnya.

    Anies mengatakan Pemprov DKI tengah menyiapkan langkah pembersihan air busa di KBT kawasan Marunda itu. Dia mengatakan pembersihan tak hanya bertujuan menghilangkan busa, tapi juga polusinya.

    "Kalau sekedar menggunakan alat kimia untuk menghilangkan buihnya, enggak kelihatan di foto, tapi bukan berarti polusinya hilang," kata Anies Baswedan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.