EKSKLUSIF: Surat Terbuka Adik Ahok untuk Yusril Ihza Mahendra

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Surat terbuka Basuri Tjahaja Purnama, adik Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menanggapi pernyataan Yusril Ihza Mahendra tentang tertutupnya peluang Ahok menjadi capres dan cawapres. Istimewa

    Surat terbuka Basuri Tjahaja Purnama, adik Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menanggapi pernyataan Yusril Ihza Mahendra tentang tertutupnya peluang Ahok menjadi capres dan cawapres. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Harry Basuki Tjahaja Purnama, adik bungsu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,  membuat surat terbuka untuk Yusril Ihza Mahendra. Surat ini dibuat Harry sebagai tanggapan atas pernyataan Yusril di Medan, Sumatera Utara, saat menghadiri Kongres Umat Islam pada 30 Maret 2018.

    Dalam acara itu Yusril menyebut Ahok terlahir sebagai warga negara asing karena ayahnya, Tjoeng Kiem Nam, memilih menjadi warga negara Tiongkok pada penentuan warga negara tahun 1962. Karena itu Ahok yang lahir pada 1966 secara otomatis mengikuti kewarganegaraan bapaknya. “Ahok tidak lahir sebagai Warga Negara Indonesia, itu bisa dicek di catatan sipil,” kata Yusril.

    Simak kembali: Vonis Ahok dalam Kasus Penistaaan Agama, Berat Hukuman Dibanding Tuntutan

    Harry mempertanyakan kenapa nama ayahnya dibawa-bawa dalam urusan politik Ahok. “Kalau ini urusannya dengan Ko Ahok, itu urusan Bang Yusril dengan Ko Ahok. Tapi kalau menyangkut bapak saya, maaf ini menyangkut saya,” kata Harry.

    Berikut ini isi surat Harry Basuki yang ditulis di Jakarta, 1 April 2018:

    Surat terbuka buat Bang Yusril.
    Ngimana abang kabarnya ikam.

    Saya baru pulang dari Belitung, dari makam bapak saya. Hari ini bertepatan dengan hari raya Paskah.

    Saya cukup terkejut dengan berita pernyataan Bang Yusril mengenai Bapak saya di acara Islamic di Medan.

    Pertama, saya tidak mengerti, kenapa nama bapak saya dibawa-bawa di acara tersebut.  Dikatakan bahwa bapak saya memilih menjadi WNA dan kami menjadi warga negara Indonesia tahun 1986.

    Kalau ini urusannya dengan Ko Ahok, itu urusan Bang Yusril dengan Ko Ahok. Saya sendiri berhubungan baik dengan adik Bang Yusril. Tapi kalau menyangkut bapak saya, maaf ini menyangkut saya.

    Kedua, saya berpikir bagaimana bapak saya yang memiliki nasionalisme tinggi, (lebih) memilih (menjadi) warga negara asing dan baru menjadi WNI sekitar tahun 1986? Padahal bapak saya selalu mengajarkan nilai-nilai nasionalisme dan kami semua sekolah di SD Negeri 3 Gantung.

    Yang ketiga, bagaimana Bang Yusril tahu kalau bapak saya lebih memilih WNA, sedangkan umur Bang Yusril saja masih muda? Apa bapak saya bilang ke abang, keluarga abang atau hanya kesimpulan abang saja? Saya tidak tahu sulit atau tidaknya mengurus (menjadi) WNI waktu itu.

    Bapak saya lahir di desa air tangga / simpang pesak, Belitung Timur. Beliau meninggalkan nama baik dan selalu dikenang membantu masyarakat yang membutuhkan. Begitulah almarhum bapak saya.

    Yang terakhir, tentu saya ingin tahu dan melihat akte kelahiran saya. Di situ jelas tertulis bahwa saya lahir sebagai Warga Negara Indonesia. Apakah bisa (kalau) bapak saya WNA tapi anaknya lahir sudah WNI ?

    Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin meluruskan bahwa bapak saya almarhum bernama : INDRA TJAHAJA PURNAMA. Silahkan lihat di akte kelahiran saya. Dan bapak saya adalah Warga Negara Indonesia yang sangat-sangat cinta tanah air.

    Bapak yang selalu ingin anak-anaknya sekolah agar pulang dapat membantu dan membangun masyarakat di kampung halamannya.

    Salam,
    Harry Basuki

    Demikian isi surat terbuka adik bungsu Ahok yang ditujukan kepada Yusril Ihza Mahendra.

    Baca juga: Perjalanan Asmara Ahok - Veronica Tan, Sejak Bertemu Hingga Gugat Cerai


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.