Miras Oplosan Renggut Banyak Nyawa, Begini Kata Keluarga Korban

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warung yang menjual minuman keras oplosan di jalan Komjen Pol M.Yasin, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Polisi menyegel warung ini karena enam orang tewas setelah menenggak minuman yang dibeli dari warung itu. TEMPO/Ade Ridwan

    Warung yang menjual minuman keras oplosan di jalan Komjen Pol M.Yasin, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Polisi menyegel warung ini karena enam orang tewas setelah menenggak minuman yang dibeli dari warung itu. TEMPO/Ade Ridwan

    TEMPO.CO, Depok - Soleha, istri Mansyur, korban tewas akibat miras oplosan di Depok, sangat terpukul dengan kepergian suaminya. Namun Soleha mengatakan hal itu dapat dijadikan pelajaran agar menjauhi minuman keras.

    “Saya mencoba ikhlas, ya mudah mudahan dengan kejadian ini semua bisa sadar dapat menjauhi hal seperti itu, juga aparat agar menindak tegas para penjual miras,” kata Soleha saat hendak menggelar tahlil hari pertama kepergian suaminya di kediaman adiknya di Jalan Jamir RT 04 RW 06 Pondok Cina, Beji, Depok, Selasa 3 April 2018.

    Mansyur adalah satu dari 5 warga meninggal akibat miras oplosan di wilayah DKI Jakarta. Ia meregang nyawa di RSUD Pasar Minggu setelah melewati masa kritis pada Senin 2 April 2018.

    Baca: Tenggak Miras Oplosan, 7 Warga Jakarta Timur Tewas

    “Dia sih nggak banyak minum, hanya untuk menghangatkan badan, paling segelas, udah gitu tidur,” kata perempuan 50 tahun itu.

    Soleha menceritakan awal mula suaminya menjadi salah satu korban miras oplosan yang dibeli dari sebuah warung ruko di bilangan Akses UI, RT 2 RW 1, Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Dia beli malem Minggu, katanya badan pegel buat enakin badan,” katanya.

    Saat tiba di rumah, Mansyur sudah menunjukkan gejala yang tidak baik. Ia hanya terbaring di kasur seharian. “Paling bangun hanya untuk ke kamar mandi atau minum,” katanya.

    Puncaknya, pada Senin malam, sang suami mengaku sakit di bagian kepala dan perutnya. “Aduh ginjal saya sakit,” kata Soleha menirukan almarhum suaminya.

    Baca: 65 Persen Remaja Jakarta Tenggak Miras Oplosan

    Sekitar pukul 20.00 WIB, Senin 2 April 2018, Mansyur dibawa ke RS Brimob, Klapa Dua. Namun, karena rumah sakit itu tidak tidak sanggup merawat karena keterbatasan alat, Mansyur dirujuk ke RSUD Pasar Minggu.

    “Pas di sana dokter bilang, suami saya keracunan alkohol, tapi saya tidak tahu jenis apa alkoholnya,” kata Soleha.

    Tak lama dirawat, pada Selasa 4 April 2018 pukul 09.30 WIB, sang suami mengalami masa kritis dan meninggal setengah jam setelahnya. Mansyur meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. “Pokoknya ini pelajaran banget buat siapa aja, kalau minum minuman keras atau lainnya itu nggak bermanfaat,” kata Soleha.

    Diduga Mansyur tewas setelah minum miras oplosan yang dikenal dengan sebutan ginseng. Minuman itu diduga telah membunuh enam warga Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok. Empat belas orang lainnya, juga masih dirawat intensif di beberapa rumah sakit.

    Delapan belas korban miras oplosan tadi terkapar setelah menenggak ginseng tadi malam, Senin, 2 April 2018, di sebuah warung jamu di Jalan Komjen Pol. M. Yasin, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tak jauh dari flyover Universitas Indonesia.

    Di Duren Sawit, tujuh orang warga Jakarta Timur tewas setelah menenggak minuman keras atau miras oplosan. Tiga orang dalam keadaan kritis dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.