Sandiaga Uno Ungkap Temuan Baru Biang Kerok Macet Tanah Abang

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara mendorong motornya menerobos pembatas jalan untuk menghindari jalan macet di Kawasan Tanah Abang, Jakarta (20/02). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Pengendara mendorong motornya menerobos pembatas jalan untuk menghindari jalan macet di Kawasan Tanah Abang, Jakarta (20/02). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bicara soal kesemrawutan lalu lintas di Tanah Abang. Sebelumnya, dia menyatakan biang kerok kemacetan adalah pedagang kaki lima dan proyek infrastruktur. Kemudian dia sebut sumber utama kesemrawutan adalah pejalan kaki, yang menyulut protes dari pejalan kaki karena trotoar dikuasai PKL.

    Apa pernyataan Sandiaga Uno terbaru tentang penyebab kemacetan Tanah Abang?

    "Salah satu yang menjadi pusat keluhan dari warga adalah pekerjaan galian maupun pekerjaan jalan di seputar Tanah Abang," kata Sandiaga di Kuningan, Jakarta Selatan, hari ini, Kamis, 19 April 2018.

    Baca3 Langkah Sandiaga Uno Siapkan Tanah Abang Hadapi Ramadan

    Dia menuturkan, temuan terbaru ini didapat dari hasil survei yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama 18 pekan. Berdasarkan survei itu, galian kabel dan PKL adalah dua penyebab utama kemacetan di Tanah Abang.

    "Dibanding PKL, ternyata 11-12 sama galian kabel. Macet itu kesemrawutan di Tanah Abang gara-gara galian kabel."

    Sandiaga Uno menyatakan telah memerintahkan Kepala Dinas Bina Marga Yusmada Faisal untuk membenahi masalah ini, termasuk berkoordinasi dengan pengusaha pemilik jaringan utilitas di kawasan Tanah Abang. "Saya marahin Pak Yusmada kenapa begini? Itu temen-temennya Bapak (Yusmada) tuh, gali-gali aja enggak pakai izin," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.