Bagi Sembako di Monas, 5 Jam Djunaedi Mencari Anaknya yang Tewas

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djunaedi, 41 tahun, ayah dari Mahesa Djunaedi (12), salah satu korban meninggal seusai mengikuti pembagian sembako dari Forum Untukkmu Indonesia di Monas pada Sabtu, 28 April 2018. Foto:TEMPO/Dias Prasongko.

    Djunaedi, 41 tahun, ayah dari Mahesa Djunaedi (12), salah satu korban meninggal seusai mengikuti pembagian sembako dari Forum Untukkmu Indonesia di Monas pada Sabtu, 28 April 2018. Foto:TEMPO/Dias Prasongko.

    TEMPO.CO, Jakarta — Muhammad Rizki Syaputra, 10 tahun, dan Mahesa Junaedi, 13 tahun tewas dalam acara pembagian sembako di Monas yang diselenggarakan Forum Untukmu Indonesia pada Sabtu, 28 April 2018.

    Djunaedi, ayah Mahesa sangat menyesal tidak bisa melakukan apa-apa ketika anaknya pingsan di Monas dan akhirnya meninggal dunia.

    “Saya menyesalkan kepada pihak panitia yang tak sigap dan lamban memberi informasi kejadian ini kepada kami,” kata Djunaedi kepada Tempo di rumahnya, Jalan Budi Mulia, Pademangan Barat, Jakarta Utara pada Kamis, 3 Mei 2018.

    Baca: Kronologi Bocah Meninggal Setelah ikut Pembagian Sembako di Monas

    Memang, tidak ada panitia yang memberi kabar kepada dia dan istrinya tentang anaknya yang pingsan di Monas dan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat.

    Dia dan istrinya yang mencari Mahesa di Monas pada sore hari dan mendapat informasi kalau anaknya pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

    Djunaedi yang bekerja sebagai sopir, menceritakan kronologi kejadiaan naas yang menimpa keluarganya tersebut.

    Pada Sabtu pagi itu, Djunaedi mengantar istrinya ke Stasiun Jakarta Kota.  Setelah itu kembali ke rumah dan membawa nasi uduk untuk sarapan Mahesa, anak sulungnya.

    Kemudian dia memberi uang jajan ke Mahesa. “Karena mau saya tinggal kerja," kata Djunaedi, 41 tahun.

    Pukul 09.00 WIB Djunaedi meninggalkan rumahnya untuk bekerja sebagai sopir.  Dia sempat berpesan kepada putranya untuk tidak bermain jauh-jauh dan meninggalkan rumah.

    Pesan itu disampaikan  karena dia mendengar beberapa tetangganya akan pergi mengikuti sebuah acara di Monas.

    Pukul 15.00 WIB, istrinya pulang ke rumah dan tidak mendapati Mahesa. Djunaedi sempat ditelpon istrinya yang menanyakan keberadaan putera sulungnya.

    Djunaedi mengatakan tidak mengetahui dan menjawab kemungkinan bermain bersama teman.

    Pada pukul 16.00 WIB, seorang teman Mahesa bertandang ke rumah. Dia bertanya ke istrinya apakah Mahesa sudah pulang karena keduanya ikut pergi ke Monas. Keduanya terpisah.

    “Mendengar itu saya panik, kemudian berangkat dari tempat kerja pukul 17.00 di Kelapa Gading dan tiba di Monas satu jam kemudian. Istri saya juga ke Monas untuk mencari Mahesa," kata dia.

    Suami istri ini berputar-putar di Monas untuk mencari tahu keberadaan Mahesa. Nihil.  Djunaedi masuk ke dalam Monas bertanya kepada pihak kepolisian dan keamanan. Namun, usahanya tak membuahkan hasil.

    Simak: Korban Sembako Monas Mengaku Diberi Uang Tutup Mulut

    Baru pada pukul 22.00 WIB, ia mendapat kabar dari seorang panitia bahwa anaknya ditemukan oleh petugas Satpol PP dalam keadaan pingsan. Petugas kemudian  membawa Mahesa ke Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat.

    Ketika sampai di lokasi, ternyata anaknya sudah meninggal sekitar pukul 19.40 WIB. Menurut dokter yang menangani, anaknya meninggal karena dehidrasi dan suhu tinggi serta kejang-kejang ketika ikut acara di Monas.

    "Saat saya datang, dokter hanya bilang yang tabah ya pak," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.