MRT Jakarta Kerja Sama dengan GoJek, Pengemudi Untung

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melintas di depan rangkaian kereta MRT yang baru tiba di Depo Lebak bulus, Jakarta Selatan, 12 April 2018. Di dalam depo telah diparkir dua set kereta MRT yang baru tiba dari Jepang pekan lalu.  TEMPO/Muhammad Hidayat

    Petugas melintas di depan rangkaian kereta MRT yang baru tiba di Depo Lebak bulus, Jakarta Selatan, 12 April 2018. Di dalam depo telah diparkir dua set kereta MRT yang baru tiba dari Jepang pekan lalu. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menjalin kerja sama dengan PT GoJek Indonesia dalam studi pengembangan pembayaran tiket (mobile payment) dan bisnis di luar tiket atau non-farebox.

    Presiden GoJek Indonesia Andre Soelistyo mengatakan kerja sama tersebut tak hanya menguntungkan PT MRT Jakarta, tetapi para pengemudi atau driver Go-Jek.

    Jika kelak MRT beroperasi, GoJek akan fokus melayani first mile dan last mile. Dalam konteks transportasi massal, maka para pengemudi ojek online tersebut hanya mengantar pelanggan dari rumah menuju stasiun dan stasiun menuju rumah.

    Baca: Polisi Tindaklanjuti Pencemaran Nama Baik Gojek Disusupi ISIS

    "Kalau driver fokus pada first mile dan last mile, maka jaraknya lebih pendek. Pengemudi diuntungkan karena trip yang bisa mereka capai lebih banyak sehingga menjadi efektif dan efisien," katanya saat konferensi pers di kantor MRT Jakarta, Selasa 22 Mei 2018.

    Dia memberi contoh pola pengemudi taksi online di Singapura yang telah menerapkan konsep first mile dan last mile. Pengemudi taksi online bisa menyelesaikan 2,5 trip dalam satu jam.

    Hal itu bisa dilakukan lantaran sebagian besar warga Singapura memanfaatkan taksi online dari rumah menuju stasiun, bukan ke tujuan aktivitas mereka. Apalagi, tingkat kemacetan di sana bisa dibilang sangat kecil.

    Baca: Gojek Laporkan Hoax Soal Anggota ISIS yang Menyusup Jadi Mitranya

    "Di Jakarta, (pengemudi) paling maksimal menyelesaikan 1,5 trip dalam rentang waktu satu jam. Masih banyak konsumen yang pakai aplikasi untuk rute-rute cukup jauh. Waktu tempuh pun jadi makin lama karena terjebak macet," jelasnya.

    Dirut MRT Jakarta William Sabandar mengamini perumpamaan Andre. Menurutnya, transportasi massal dan angkutan lain, misalnya ojek online, seharusnya memang saling melengkapi satu sama lain.

    "Bisa dikatakan GoJek ini angkutan pengumpang [feeder]. Mereka mengantar konsumen dari rumah menuju stasiun MRT. Nah, kami berperan sebagai back bone [tulang punggung] transportasi massal," ucapnya.

    Baca: MRT Jakarta Dapat Kepastian Soal Lahan Kampung Bandan

    Lebih lanjut, dia menuturkan konsep tersebut dikenal dengan istilah interoperabilitas. Apabila skema itu bisa dijalankan secara penuh, maka konsumen tidak perlu pusing untuk berganti moda transportasi, membuka beberapa aplikasi, atau mengeluarkan uang lebih banyak untuk pembayaran tiket.

    "Tujuan pembangunan MRT memindahkan orang dari kendaraan pribadi agar mau menggunakan transportasi umum. Makanya, sistem ini harus benar-benar dibuat secara efektif dan efisien sehingga memudahkan konsumen untuk berganti-ganti moda tanpa harus ribet," ujarnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.