55 Warga Tanah Baru Bogor Keracunan Makanan Usai Konsumsi Tutut

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak menunjukkan sejumlah keong tutut hasil tangkapannya di Desa Cigagade, Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat, 25 Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Seorang anak menunjukkan sejumlah keong tutut hasil tangkapannya di Desa Cigagade, Kecamatan Limbangan, Garut, Jawa Barat, 25 Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bogor - Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, menurunkan tim kesiapsiagaan dan surveillance Puskesmas serta rumah sakit untuk menangani warga yang mengalami keracunan makanan, Sabtu 26 Mei 2018.

    "Upaya penanganan keracunan sudah berjalan, tim kesiapsiagaan dan surveillance sudah bergerak di lapangan," kata Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Bogor, Lindawati.

    Sekitar 55 warga Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, dirawat di pusat layanan kesehatan karena keracunan makanan usai mengkonsumsi tutut.

    Sejak Jumat pukul 21.30 WIB warga berdatangan ke Puskesmas Bogor Utara mengeluhkan mual, muntah, pusing dan badan panas usai mengkonsumsi sejenis keong sawah itu.

    Berdasarkan data sementara, warga yang mengalami keracunan berasal dari RT 001 sebanyak 27 orang, RT 002 sebanyak 23 orang dan RT 005 sebanyak lima orang. Ketiganya berada di RW 006, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara.

    Saat ini warga menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, seperti di Puskesmas Bogor Utara dan beberapa lainnya dirujuk ke rumah sakit.

    Tim surveillance Puskesmas terus bergerak untuk mendata jumlah warga. Diperkirakan ada warga yang langsung ke rumah sakit tanpa melalui rujukan dari Puskesmas.

    Polsek Bogor Utara juga sudah bergerak mengamankan barang bukti tutut yang dijual oleh Juju dengan harga Rp2.000 per bungkus. Sebanyak 80 bungkus tutut atau keong dibeli oleh warga.

    Menurut keterangan Juju, keong yang menjadi penyebab puluhan warga keracunan makanan itu berasal dari Ibu Yayah atau Diah. Juju hanya menerima titipan barang dagangan itu.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.