Aman Abdurrahman Hujat Bom Surabaya, Ini Kata Pengamat Teroris UI

Reporter:
Editor:

Ali Anwar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman mendapat pengawalan ketat saat menjalani sidang pembacaan pledoi atau nota pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 25 Mei 2018. Saat berjalannya persidangan, sempat terdengar dua kali ledakan yang ternyata berasal dari drum kosong. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman mendapat pengawalan ketat saat menjalani sidang pembacaan pledoi atau nota pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 25 Mei 2018. Saat berjalannya persidangan, sempat terdengar dua kali ledakan yang ternyata berasal dari drum kosong. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik SosialFakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Solahudin, mengatakan pernyataan pemimpin Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman yang mengutuk bom Surabaya, Jawa Timur, karena sudah di luar kendalinya.

    Walaupun sebagai rujukan keagamaan oleh anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD). “Dia kehilangan kendali, tepatnya setelah Aman Abdurrahman dimasukan sel isolasi pasca kasus bom Thamrin 2016,” ujar Solahudin kepada Tempo, Jumat, 25 Mei 2018.

    Pernyataan terdakwa sejumlah kasus nbom di Indonesia itu menghujat serangan bom melibatkan balita, kata Solahudin, bisa diakibatkan amaliah itu tanpa restunya. Akses untuk berkomunikasi dengan sel JAD untuk memberi fatwa tidak dimilikinya. 

    “Salah satu alasannya dia diisolasi sehingga kemungkinan untuk komunikasi dengan pengikutnya cukup sulit,” ujar Solahudin.

    Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Jumat, 25 Mei 2018, Aman Abdurrahman mengecam aksi bom bunuh diri di Surabaya yang terjadi pada 13-14 Mei 2018. “Kejadian di Surabaya itu adalah tindakan dari orang-orang yang sakit jiwanya," kata Aman Abdurrahman saat membacakan pleidoi.

    Aman Abdurrahman menjadi terdakwa kasus teroris bom Sarinah, bom Kampung Melayu, bom gereja Samarinda, hingga penusukan polisi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Jaksa menuntut Aman Abdurrahman dihukum mati karena menjadi otak dari sejumlah aksi teror tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.