Jumat, 16 November 2018

40 Masjid Radikal: Pemprov DKI Jakarta Jelaskan Pembinaannya

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi masjid. AP/Heri Juanda

    Ilustrasi masjid. AP/Heri Juanda

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai gencar membina masjid setelah ditemukan 40 masjid di Ibu Kota terindikasi menyuburkan paham radikalisme yang bisa berujung terorisme.

    "Pembinaan kepada sarana ibadah semua agama, baik itu masjid, mushola, gereja, pura, wihara, dan lainnya dalam rangka NKRI tetap satu," kata Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) DKI Jakarta Hendra Hidayat di Balai Kota, Jakarta Pusat hari ini, Rabu, 6 Juni 2018.

    BacaBegini Pengakuan Pria Buang Pisau di Masjid 

    Menurut Hendra, pembinaan tersebut tidak terbatas untuk 40 masjid yang terindikasi menyebar paham radikalisme tadi. Dia tak menjelaskan apa yang dilakukan Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI untuk mengantisipasi radikalisme di masjid-masjid.

    Hendra malah menjelaskan kiprah Dewan Masjid Indonesia (DMI), lembaga yang secara nasional dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla. Pembinaan oleh DMI berupa monitoring rutin antara lain mengundang seluruh pengurus masjid yang tergabung dalam Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

    Para pengurus DKM tadi diberi pembinaan dan pemahaman dalam pencegahan penyebaran paham radikalisme.

    "Intinya selain dalam rangka pembinaan juga menjaga situasi dan kondisi di Jakarta agar tetap kondusif," ucap Hendra.

    Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengklaim terdapat 40 masjid di Jakarta yang terindikasi menyuburkan paham radikalisme. "Kami punya datanya di Biro Dikmental," kata Sandiaga di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Selasa, 5 Juni 2018.

    Data masjid tersebut telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Namun, Sandiaga  tidak bersedia merincikan nama 40 masjid tersebut. "Kami tidak bisa mengumbar nama masjidnya."


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.