HUT Jakarta: Radio Prambors dan Kaum Muda Ibu Kota Era 1980-an

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dok: Prambors FM

    Dok: Prambors FM

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada momentum HUT Jakarta ke-491, Tempo mengulas kembali tempat-tempat yang menonjol dan mempengaruhi kehidupan kaum muda ibu kota di era 1980-an. Salah satunya adalah Radio Prambors, radio yang menjadi pelopor siaran khusus untuk anak muda.

    Prambors dirintis oleh sekelompok anak muda yang berdomisili Jakarta Pusat. Tepatnya di Jalan Prambanan, Jalan Mendut, Jalan Borobudur di wilayah Menteng. Anak-anak muda itu antara lain
    Imran Amir, Mursid Rustam, Malik Sjafei, Bambang Wahyudi, dan Tri Tunggal.

    “Itu tahun 1970-an saat kami sebagian besar masih SMA,” kata Imran yang ditemui Tempo di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 28 Juni 2018. 

    Pada masa itu bisa dikatakan hanya Prambors yang menyasar segmen anak muda untuk siaran radio. Di fase awal, Prambors memiliki program-program yang jadi ciri khas. Beberapa di antaranya adalah obrolan santai di Warung Kopi dan Lomba Cipta Lagu Remaja. Program tersebut membantu melejitkan popularitas Prambors.

    Karena menjadi “pemain tunggal”, Prambors sempat terlena. Perubahan selera musik kaum muda akhirnya terabaikan. Karena itu ketika muncul radio-radio baru sebagai pesaing, rating Prambors langsung anjlok. “Kami tertinggal secara kualitas manajemen. Namanya juga manajemen ala anak muda," ujar Imran.

    Masa kritis itu, kata Imran, memicu dai dan teman-temannya untuk berbenah. Manajemen, peralatan teknis, dan bauran program diperbaiki. Musik rock yang selalu diputar pagi hingga
    malam, mulai dikurangi. Prambors kemudian memberi ruang untuk gendre lain seperti jazz dan pop. “Disesuaikan tren kalangan muda Jakarta awal 1980-an,” ujarnya.

    Imran mengatakan, struktur organisasi dan pola kerja mulai bergerak menuju profesional. Program on air dibuat lebih interaktif dengan pendengar. Untuk pemesanan lagu, pendengar diberi kesempatan berbicara langsung kepada penyiar secara on air. Sedangkan sebelumnya pemesanan lagu hanya dibacakan oleh penyiar.

    "Kami juga bikin kuis-kuis menarik. Hadiahnya spektakuler, mobil. Belum ada radio yang ngasih mobil saat itu," kata mantan mahasiswa Universitas Pancasila itu. "Waktu muncul lintas Melawai, kami live di sana."

    Pada pertengahan 1980, Prambors kembali melanjutkan kesuksesan membuat program yang menarik antusiasme pendengar muda. Salah satunya adalah seri drama radio Catatan si Boy.

    Imran mengatakan, radionya berkomitmen untuk mengakomodir kebutuhan akan hiburan dan kreativitas kawula muda. Melalui program-program seperti “Tenda Mangkal” dan “Lomba Cipta Lagu Remaja”, Prambors memberi panggung dan kesempatan bagi grub band baru. "Sebenarnya banyak yang punya potensi. Tapi belum masuk label rekaman mereka sudah ditolak, makanya kami munculkan," ujar ayah dua anak itu.

    Sebagai langkah menjalin keterikatan dengan pendengar, Prambors, kata Imran, membuka diri sebagai tempat nongkrong. Beberapa program off air sengaja dibuat untuk mengundang selebriti, atlet, tokoh, dan tentunya pendengar setia.

    Beberapa di antaranya melalui nonton film bareng di Sabtu malam dan live musik sebulan sekali. "Sehingga pendengar merasa, ini bagian dari gue," kata Imran.

    Mulai pertengahan 1980, Prambors telah mengakar sepenuhnya sebagai radio anak muda Jakarta. Radio yang diambil dari singkatan nama Jalan Prambanan, Mendut, Borobudur, dan sekitarnya itu mampu menjadi radio yang renyah dikuping anak muda, dekat dengan pendengar dan inovatif.

    Untuk urusan musik, Prambors menjadi hits maker. Lagu-lagu yang diputar dimuat dalam kaset dan laris dijual. Hits maker itu, kata Imran, tidak terlepas dari peran rekannya di Amerika dan Eropa yang selalu memberi update. "The golden years," kata Imran menutup wawancara dalam rangka HUT Jakarta ini.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.