Staf Presiden Dibegal Ralat Keterangan, Ini Katanya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kawasan sekitar Halte Transjakarta Glodok di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, pada Kamis, 5 Juli 2018. Ini adalah lokasi pembegalan yang dialami staf ahli muda pembantu Presiden Jokowi, Armedya Dewangga. Tempo/Adam Prireza

    Kawasan sekitar Halte Transjakarta Glodok di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, pada Kamis, 5 Juli 2018. Ini adalah lokasi pembegalan yang dialami staf ahli muda pembantu Presiden Jokowi, Armedya Dewangga. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf ahli presiden, Armedya Dewangga, meralat keterangannya tentang peristiwa begal yang dialaminya di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, pada 8 Juni 2018 lalu. Dia menyatakan telah memeriksa kembali kerugian akibat pembegalan itu dan menemukan tidak ada dokumen negara yang hilang.

    “Tidak benar jika file yang dirampas adalah dokumen negara, seluruhnya cuma berisi file pribadi saja,” kata Armedya ketika dihubungi Tempo pada Kamis, 5 Juli 2018.
     
    Baca:
    Begal Staf Presiden Masih Bebas, Ini Kata Polisi

    Keterangannya itu menyusul klarifikasi yang diberikan Kantor Staf Presiden pada hari yang sama. Kantor itu melalui Tenaga Ahli Madya Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP Agustinus Eko Raharjo memastikan bahwa tidak ada dokumen negara yang digasak begal.

    Agustinus menjelaskan, barang-barang yang hilang, seperti laptop dan dua hard disk, seluruhnya adalah barang pribadi Armedya. Menurutnya, tidak ada dokumen negara karena, “Dia (Armedya) itu desainer, video grafis.”

    Baca:
    Staf Presiden Dibegal, KSP Bantah Dokumen Negara Melayang

    Sebelumnya, Armedya yang adalah ahli muda di Kedeputian III Bidang Kajian Pengelolaan dan Isu Ekonomi Strategis di Kantor Staf Presiden dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengungkapkan telah menjadi korban begal. Modus kejahatan jalanan yang menyasarnya itu adalah penipuan ban kempis.

    Pembegalan dikisahkannya terjadi di Jalan Gajah Mada pada Jumat sore, 8 Juni 2018, atau sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Saat itu, dia sedang berkendara sendiri dan silih berganti dihampiri empat orang yang mengendarai tiga sepeda motor.

    Baca:
    Kasus Begal Staf Presiden, Ini Surat Laporan Korban ke Polisi

    Berdasarkan rekaman CCTV yang Tempo terima, terlihat mobil Armedya menepi tepat di depan gerbang Citywalk Gajah Mada. Saat dia turun mengecek kondisi ban, satu di antara pelaku diduga membuka pintu mobilnya. Pelaku menggondol tas ransel berisi laptop, hard disk, dan uang tunai.

    Akibat kejadian itu, Armedya mengaku kehilangan satu unit MacBook ME294, hard disk Seagate, hard disk Western Digital putih, dan uang tunai Rp 3,3 juta. Dia sempat menuturkan laptop dan hard disk berisi dokumen negara yang bersifat rahasia dan mendorong kepolisian memburu pelaku.

    Armedya bahkan mengungkap pula sebuah surat yang telah dikirim dari Kantor Staf Presiden karena alasan pentingnya dokumen yang hilang tersebut. Tak ada keterangan dari KSP perihal surat itu. Namun Agustinus menyampaikan apresiasi terhadap kepolisian yang telah menindaklanjuti pengaduan Armedya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?