Rabu, 14 November 2018

Anies Rotasi Pejabat Teras, Ini 5 Kepala Dinas Strategis Kosong

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melantik sejumlah wali kota Jakarta, Bupati Kepulauan Seribu, dan pejabat tinggi DKI di Balai Kota Jakarta, 5 Juli 2018. Wali Kota Jakarta Pusat diisi Bayu Megantara, Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali, Wali Kota Jakarta Timur M. Anwar, Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi,  Wali Kota Jakarta Utara Syamsudin Lologoa, dan Bupati  Kepulauan Seribu Husien Murad. Tempo/Amston Probel

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melantik sejumlah wali kota Jakarta, Bupati Kepulauan Seribu, dan pejabat tinggi DKI di Balai Kota Jakarta, 5 Juli 2018. Wali Kota Jakarta Pusat diisi Bayu Megantara, Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali, Wali Kota Jakarta Timur M. Anwar, Wali Kota Jakarta Barat Rustam Effendi, Wali Kota Jakarta Utara Syamsudin Lologoa, dan Bupati Kepulauan Seribu Husien Murad. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Rotasi diikuti dengan pelantikan 20 pejabat dan bupati di Pemprov DKI oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memicu kekosongan untuk beberapa posisi strategis.

    Pasalnya, banyak pejabat dirotasi untuk mengganti pegawai negeri sipil (PNS) yang memasuki masa pensiun.

    Yusmada Faisal misalnya. Mantan Kepala Dinas Bina Marga tersebut saat ini menduduki posisi Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda Provinsi DKI. Hasilnya, posisi Kadis Bina Marga masih kosong sehingga harus diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt).

    Baca : Anies Lelang Jabatan 8 Posisi Ini bagi PNS Seluruh Indonesia

    Hal yang sama juga terjadi pada jabatan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI. Posisi strategis yang sebelumnya diisi oleh Tutty Kusumawati tersebut masih kosong. Pasalnya, GUbernur DKI Jakarta Anies Baswedan "melempar" Tutty sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk DKI.

    Selain itu, posisi lain yang belum terisi yaitu Kepala Dinas Perumahan, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kepala Dinas Tata Air. Meski strategis, baik Anies maupun Sandiaga Uno belum menemukan sosok yang tepat untuk menggantikan Agustino, Sopan Andriyanto, dan Teguh Hendrawan.

    Menanggapi hal itu, Anies masih melakukan pencarian pejabat yang pas untuk mengisi posisi tersebut. Pasalnya, proses seleksi tidak dilakukan secara sepihak tetapi melalui panitia seleksi (pansel). Pansel untuk rotasi dan mutasi yang dikepalai oleh Sekretaris Daerah DKI Saefullah tersebut tanggal 8 Juni melalui Keputusan Gubernur No 1012/2018.

    Simak : Anies Baswedan Angkat Angkat Rustam Effendi yang Mundur di Era Ahok

    Anggota pansel berasal dari kalangan profesional dan mantan lembaga negara, misalnya mantan Wakil Menteri PAN-RB Prasojo, Mantan Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja, Direktur Humas Resources UI Ahmad Hariyadi, dan Guru Besar Ekonomi UGM Zaki Baridwan.

    "Anggota pansel ini yang nanti akan bertugas di dalam proses seleksi di tahap berikutnya. Kalau proses pansel rotasi sudah selesai tinggal pansel promosi yang akan disampaikan lebih jauh," tutur Anies Baswedan, Kamis 5 Juli 2018.

    Sementara itu, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono mengatakan pergantian pejabat yang tidak dilakukan menyeluruh atau parsial dikhawatirkan akan mengakibatkan tidak efektifnya kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

    Baca juga : Kawasan Kali Besar Berbenah, Dimulai Ahok dan Dibuka Sandiaga Uno

    Pasalnya, pelaksana tugas yang saat ini menduduki posisi strategis tidak tahu pasti apakah mereka akan dilantik atau diganti. "Misalnya Kadis Bina Marga, mereka kan was-was juga nasibnya selamat atau tidak. Diganti atau tidak," ujar Gembong Warsono.

    Gembong justru meminta Gubernur Anies untuk memberikan kepastian dengan tidak terlalu lama melakukan seleksi. Pasalnya, saat ini Pemprov DKI belum maksimal memanfaatkan anggaran. "Kalau tidak ada kepastian pasti berimbas ke soal penyerapan anggaran ke depan. Bayangkan saja, sudah semester I/2018 penyerapan belum tembus 30%," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?