Komplotan Begal Ditangkap, Laptop Staf Presiden Belum Ditemukan

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi narapidana/tahanan/penjara. REUTERS/Beawiharta

    Ilustrasi narapidana/tahanan/penjara. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi telah menangkap tujuh anggota komplotan begal yang terlibat perampokan terhadap pegawai Kantor Staf Presiden (KSP) Armedya Dewangga. Dua orang diantaranya terpaksa ditembak mati karena melawan saat diringkus. Polisi saat ini masih memburu satu tersangka lagi yang bernama Buyung.

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nico Afinta mengatakan laptop milik Armedya yang dikabarkan berisi dokumen penting hingga saat ini belum ditemukan. Berdasarkan keterangan tersangka, barang itu sudah beberapa pindah tangan.

    Baca: Komplotan 7 Begal Staf Presiden, Begini Mereka Berbagi Peran

    Nico menyebut komplotan itu dipimpin oleh Ramalia alias Ramli. Ia menjual laptop milik korban seharga Rp 4 juta kepada penadah bernama Heru Astanto. Keterangan tersebut didapat dari anggota komplotan bernama Ade Junaidi, lantaran Ramli telah tewas ditembak polisi. "Ramalia melawan sehingga terpaksa ditembak," kata Nico.

    Polisi kemudian menangkap Heru dan memeriksanya. Heru mengaku laptop itu sudah dijual kepada orang lain. Polisi masih melacaknya. Adapun Heru sama seperti Ramli, tewas ditembak polisi karena disebutkan berusaha merebut senjata polisi.  

    Selain Ade Junaidi, empat begal yang saat ini ditahan adalah Hardiwahidin alias Toing, Dani Setyawan, Achmad Mahmudi, dan Abdul.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.