Kamis, 20 September 2018

Penjambretan Geng Tenda Oranye, Polisi: Jumlah Mereka Banyak

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi begal motor. TEMPO/Iqbal Lubis

    Ilustrasi begal motor. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Keberadaan sindikat penjambretan Tenda Oranye bukan rahasia bagi warga RT 6 RW 16 Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. Sindikat atau geng itu mengambil lokasi di kolong jalan tol, berpayung tenda oranye, dengan aktivitas yang kentara adalah bermain bola sodok atau bilyar. 

    Baca:
    Kasus Penjambretan, Giliran Geng Saber Diobrak Abrik Polisi

    Ketua RT, Maming, menyebut penghuni tenda adalah para pendatang ilegal. Menurut dia, dari ratusan orang di sana hanya 8-10 keluarga yang mempunyai kartu identitas. “Sisanya, liar,” katanya Rabu 11 Juli 2018.

    Menurut dia, tidak sedikit pula orang yang nongkrong di sana mempunyai catatan kriminal. Selain diduga terlibat penodongan, jambret dan perampokan, orang-orang yang sama disebutkan kerap berjudi. “Banyak pelaku kejahatan menghabiskan uangnya di sana karena apa saja ada,” kata Maming lagi.

    Baca:
    Tersangka Penjambretan Maut Cempaka Putih Dihantui Wajah Korban

    Kepala Unit Kriminal Umum Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Rulian Syauri membenarkan kawasan tersebut merupakan markas geng Tenda Oranye. “Mereka setiap hari biasanya berkumpul di bilyar tenda orange tersebut,” ujarnya.

    Rulian mengatakan, jumlah pelaku yang diduga terlibat kriminalitas jalanan di lokasi itu cukup banyak. Sejauh ini, polisi telah menangkap tujuh tersangka penjambretan dari geng Tenda Oranye itu.

    Baca:
    Kasus Begal Staf Ahli Jokowi, Penadah dan Isi Laptop Masih Misteri

    "Tiga di antaranya kami tembak mati dan enam masih DPO (buron),” katanya sambil menambahkan, “Kami masih kembangkan lagi karena jumlah mereka banyak sekali.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.