Minggu, 22 Juli 2018

Polisi Gerebek Geng Penjambretan Tenda Oranye, Cukupkah?

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kolong jalan tol di Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang disebut polisi menjadi markas geng penjambretan Tenda Oranye, Rabu 12 Juli 2017. Imam Hamdi/Tempo.

    Kolong jalan tol di Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang disebut polisi menjadi markas geng penjambretan Tenda Oranye, Rabu 12 Juli 2017. Imam Hamdi/Tempo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Kelurahan Pejagalan , Penjaringan, Jakarta Utara, meminta pemerintah mendata dan menertibkan penduduk kolong jalan tol. Alasannya, lokasi yang dijejali bangunan semi permanen tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul mereka yang dicurigai terlibat dalam kriminalitas jalanan alias begal dan penjambretan.

    “Saya setuju sekali kalau ditertibkan,” kata Sukardi, warga RT 6 RW 16, Pejagalan, ketika ditemui Rabu, 11 Juli 2018.

    Baca:
    Penjambretan Maut Cempaka Putih, Tersangka Mau Lunasi Tunggakan

    Polisi telah mengungkap kalau di kolong jalan tol itu ada area sempit berpagar terpal oranye tempat berkumpul anggota geng penjambretan. Nama komplotan mengikuti tenda yang ada di sana yakni Tenda Oranye. Sebanyak tujuh anggota geng itu telah ditangkap dimana tiga di antaranya ditembak mati.

    Bukan hanya berkumpul dan memperjualbelikan barang rampasan, kawasan yang sama diduga juga kerap dijadikan arena perjudian. "Banyak yang main judi di sana menghabiskan uang kejahatan. Jadi memang lebih baik ditertibkan," ujar Sukardi lagi.

    Sukardi mengisahkan kalau polisi sudah menggerebek lokasi kolong jalan tol tersebut dua pekan lalu. Setelah penggerebekan pada dini hari tersebut, Sukardi mengaku tidak lagi melihat banyak pemuda berkumpul. "Tapi kalau dibilang rawan memang daerah tersebut rawan."

    Baca juga:
    Bila Ahok Bebas, Sandiaga Akan Minta Nasihat Mimpin Jakarta
    Bermasalah Lagi, Pengumuman PPDB Tangsel Tidak Bisa Diakses

    Ketua RT setempat, Maming membenarkan ratusan kepala keluarga yang tinggal di kolong tol tersebut tidak punya berkas administrasi atau izin tinggal. "Hanya 8-10 KK (kepala keluarga) yang punya berkas kependudukan," ujarnya.

    Menurut dia, semua warga yang tinggal di kawasan kolong merupakan pendatang dari luar DKI Jakarta. Maming mengakui bahwa lokasi tersebut dijadikan tempat berkumpul para penjahat jalanan untuk menghabiskan uangnya. "Di sana ada tempat perjudian juga. Bisa dibilang lokasi duit jin dimakan setan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.