LSM: Pembangunan 6 Tol Baru di Jakarta Bakal Tingkatkan Polusi

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mendengarkan penjelasan saat meninjau pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu, 11 Juli 2018. Dalam kegiatan tersebut, Sandiaga didampingi Dirut PT Jakarta Toll Road Development Frans Sunito. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mendengarkan penjelasan saat meninjau pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu, 11 Juli 2018. Dalam kegiatan tersebut, Sandiaga didampingi Dirut PT Jakarta Toll Road Development Frans Sunito. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Penghapus Bensin Bertimbal (KPBB) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya menolak pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota di Jakarta. Mereka menilai jalan tol itu justru akan membuat polusi atau pencemaran udara di Ibu Kota semakin parah.

    “Dengan adanya jalan tol baru, masyarakat malah akan semakin terpacu menggunakan jalan itu. Dampaknya, semakin banyak masyarakat beli mobil dan meningkatnya polusi udara,” tutur pengamat kebijakan publik, Agus Pambagyo, dalam konferensi pers di kantor KPBB, Gedung Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada Jumat, 13 Juli 2018.

    Baca juga: Sandiaga Uno Pastikan 6 Ruas Tol Dalam Kota Selesai 2023

    Direktur Eksekutif  KPBB Ahmad Safrudin mengatakan keseluruhan jalan tol di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sepanjang 565 kilometer (km) menghasilkan karbon dioksida (CO2) sekitar 16,62 juta ton per tahun.

    Jika ditambah dengan adanya enam ruas tol baru ini, ia menghitung kontribusi CO2 bertambah sekitar 3 juta ton per tahunnya.

    “Jumlahnya mendekati 20 juta ton per tahun. Ini kan mengkhawatirkan sekali,” tutur Ahmad.

    Selain itu, menurut data KPBB per tahun 2016, kerugian warga Jakarta terhadap pencemaran udara sebesar Rp 51,2 triliun. Sementara itu, jumlah pengidap penyakit ISPA setiap tahunnya sebanyak 2,7 juta orang, bertambah 12,5 persen dibanding tahun 2010.

    Selain itu, kata Ahmad, pencemaran udara berdampak pada peningkatan pengidap penyakit asma sebesar 1,4 juta orang, bronkitis 214 ribu orang, penyakit  paru obstruktif kronis (PPOK) 172 ribu orang, pneumonia 373 ribu orang, dan jantung koroner 1,4 juta.

    “Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta terkait air quality index (AQI), sejak 2012, kualitas udara kategori sedang hanya kurang dari 50 hari per tahunnya. Hanya tahun 2017 yang naik menjadi 69 hari,” tutur Ahmad. “Sedang itu bagi penderita asma sudah sangat berat.”

    Pembangunan enam ruas jalan tol sepanjang 69,77 km itu akan memakan biaya Rp 41,17 triliun. Keenam ruas jalan tol dalam kota Jakarta ini akan menjadi bagian dari jaringan tol di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

    Nantinya, jalan tol ini akan menyediakan lajur khusus bagi angkutan umum berupa bus rapid transit yang terintegrasi dengan jalur Transjakarta.

    Simak juga: Sandiaga Uno Mendiskon Harga Tiket Asian Games, Begini Carannya

    Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno pun memastikan pembangunan yang terbagi dalam tiga tahap itu akan rampung pada 2023. Adapun tahap pertama, yaitu ruas Semanan-Sunter-Pulo Gadung sepanjang 30 kilometer, akan beres pada 2021.

    "Tahap 1 ini akan menjadi urat nadi wilayah barat-timur DKI Jakarta," kata Sandiaga Uno saat memantau pengerjaan proyek jalan tol itu di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Rabu, 11 Juli 2018


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Paparan Radiasi Cesium 137 di Serpong

    Bapeten melakukan investigasi untuk mengetahui asal muasal Cesium 137 yang ditemukan di Serpong. Ini berbagai fakta soal bahan dengan radioaktif itu.