10 Jasad Pelaku Penjambretan di RS Polri, Luka Tembak di Dada

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mayat. guardian.ng

    Ilustrasi mayat. guardian.ng

    TEMPO.CO, Jakarta – Rumah Sakit Polri Kramatjati telah menerima 10 dari 11 jasad pelaku yang diduga melakukan penjambretan da begal yang ditembak mati polisi selama dua pekan terakhir.  Kepala Instalasi kedokteran Forensik RS Polri Kramatjati Komisaris Besar Edi Purnomo mengatakan mayat terakhir yang diserahkan pada 12 Juli lalu.

    Baca juga: Pelaku Penjambretan Melawan, Kapolda Metro: Tembak di Tempat

    "Semua yang diserahkan sudah dalam keadaan tewas saat sampai di RS Polri," kata Edi di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Rabu, 18 Juli 2018.

    Edi mengatakan seluruh mayat para pelaku kejahatan tersebut mengalami luka tembak di bagian dada. Mayat pertama diserahkan atas nama Franky Simanjuntak pada 28 Juli lalu, oleh Kepolisian Resor Jakarta Barat.

    Sedangkan, mayat kesepuluh yang diserahkan bernama Niko Arlando oleh Kepolisian Resor Metro Bekasi.

    "Dari 10 mayat yang diserahkan ke kami, delapan di antaranya telah diambil keluarganya."

    Polisi menahan 247 orang yang diduga terlibat dalam tindak kejahatan jalanan  alias begal sepanjang pekan kedua operasi memburu begal dan jambret pada 6-12 Juli 2018.

    Baca juga: Polri Berjanji Atasi Begal dan Penjambretan Seminggu Selesai

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan sebanyak 1.237 orang mendapat pembinaan dan 247 orang ditahan selama operasi jambret dan begal yang dimulai pada 3 Juli 2018.

    Operasi tersebut digelar serentak semua kepolisian resor di wilayah Polda Metro menjelang perhelatan Asian Games 2018.

    "Operasi itu khusus dilakukan untuk memburu pelaku tindak kejahatan jalanan, khususnya begal dan jambret."

    Simak juga: Begini Pengakuan Pelaku Penjambretan Cempaka Putih ke Polisi

    Sepanjang pekan kedua ini, polisi berhasil menjaring 532 kasus kejahatan jalanan. Kasus itu meliputi penjambretan, penganiayaan, pencurian kendaraan bermotor, dan pencurian rumah kosong.

    Secara keseluruhan, selama dua pekan operasi berjalan, polisi telah menahan 320 orang. Dari jumlah itu, polisi terpaksa menembak 52 orang. Sebanyak 41 orang yang diduga melakukan penjambretan dan begal tertembak di bagian kaki dan 11 penembakan lainnya berujung fatal alias mematikan.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.