Kasus Polisi Gadungan, Ahli: Masyarakat Mudah Termakan Hoax

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Polisi gadungan. Dok.Tempo/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Polisi gadungan. Dok.Tempo/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli semiotika Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan mengapa banyak orang mudah tertipu oleh polisi gadungan, seperti kasus Joseph Anugerah. Selama 3 hari, pemuda 20 tahun itu berhasil melakukan pungli terhadap beberapa pelanggar lalu lintas di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan. 

    Baca: Tips Cara Membedakan Polisi Gadungan dengan Polisi Betulan 

    Joseph Anugerah ditangkap di Jalan Layang Non Tol (JLNT) Casablanca Ahad, 15 Juli 2018 setelah mengumpulkan Rp 520 ribu hasil pungli. Saat ditangkap, Joseph mengenakan sejumlah atribut polisi lalu lintas (polantas). 

    Menurut Yasraf Amir Piliang ahli semiotika dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, hal seperti ini dapat terjadi karena adanya peran tanda dalam kebudayaan. Ia menjelaskan, tanda merupakan sebuah medium untuk menyampaikan kebenaran, tetapi bagi beberapa orang bisa digunakan untuk menipu.

    “Contohnya seragam polisi ini dapat digunakan untuk menunjukkan identitas seorang polisi, tetapi bisa juga digunakan untuk menipu orang lain dengan cara memalsukan identitas tadi,” kata Yasraf saat dihubungi Tempo, Kamis 19 Juli 2018.

    Secara sederhana fungsi tanda bisa digolongkan menjadi negatif dan positif, sesuai dengan motif penggunanya. Pada kasus polisi gadungan ini,  Joseph menggunakan fungsi negatif dari tanda, ia menggunakan sifat dari tanda yang memiliki pretensi.

    Menurut Yasraf, alasan kenapa masyarakat mudah tertipu, karena lemahnya daya kritis. “Tanda bukan hanya ada dalam seragam, tetapi juga dalam teks seperti sms dan di internet. Makanya banyak yang menyalahgunakannya untuk menyebarkan berita-berita hoax,” kataya.

    Baca: Begini Keseharian Joseph, Si Polisi Gadungan Menurut Tetangga

    Tingkat literasi adalah kunci, lanjut Yasraf. Ia mencontohkan masyarakat Jepang dan Eropa yang terbiasa dengan budaya membaca, menurutnya masyarakat seperti itu yang memiliki tingkat literasi tinggi pasti punya daya kritis yang kuat.

    “Intinya adalah akses terhadap informasi, kalau informasi yang dimiliki banyak tentu saja orang bisa berpikir dan membedakan mana yang asli dan tidak,” tutur Yasraf.

    Saat ditangkap, polisi gadungan ini mengenakan rompi polisi berwarna hijau, topi polisi, atribut pangkat brigadir, serta sepatu tunggang alias PDL lalu lintas. Joseph juga menenteng sebuah handy talkie atau HT yang dipinjamnya dari teman ibunya.

    FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.