Ini Alasan Anies Pertahankan Industri Tahu Tempe di Kali Item

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seniman mural The Popo kritik Gubernur DKI Jakarta soal penanganan Kali Item melalui mural (Instagram)

    Seniman mural The Popo kritik Gubernur DKI Jakarta soal penanganan Kali Item melalui mural (Instagram)

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jakarta Anies Baswedan menyatakan tak akan menutup produksi tahu dan tempe di kawasan Kali Sentiong, Jakarta Pusat. Keberadaan produksi industri rumahan itu dituding telah menyumbang pencemaran sehingga karena bau dan warna airnya, kali itu juga disebut Kali Item.

    Baca:
    Anies Beda dengan Sandiaga Soal Penuntasan Kali Item

    Anies beralasan tak mau menyetop perekonomian produsen tempe yang masuk kategori kecil dan menengah itu. “Jadi kegiatan usaha boleh jalan, tapi limbahnya dikelola. Sehingga tidak dibuang di sungai," kata Anies di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Ahad 29 Juli 2018.

    Anies menegaskan itu sekalipun sedang kerepotan mengatasi bau dan pencemaran di kali tersebut terkait pelaksanaan Asian Games 2018, 18 Agustus-2 September nanti. Bau dan pemandangan kali yang kotor dikhawatirkan mengganggu para atlet yang akan mondok di Wisma Atlet Kemayoran di tepian kali itu.

    Pernyataan tak kuasa menggusur industri rumahan tempe-tahu pencemar Kali Sentiong pernah disampaikan Kepala Bidang Pengawasan dan Penataan Hukum Dinas Lingkungan Hidup Mudarisin. Dia menuturkan, pencemaran Kali Item, kata Mudarisin, diperparah dengan adanya 150 pembuat tahu dan tempe di sekitar lokasi itu.

    Baca:
    Jaring Tak Efektif, Bau Kali Item Sampai ke Lobi Wisma Atlet

    Mudarisin memperkirakan setiap pembuat tahu-tempe membuang sekitar 200 liter limbah pembuatan makanan berbahan dasar kedelai itu. “Mereka membuangnya ke kali,” ujarnya.

    Menurut Mudarisin, Dinas kesulitan untuk menindak tegas atau menutup usaha para pembuat tahu-tempe yang mencemari Kali Item itu. Sebab, para pembuat tahu-tempe itu masuk kategori industri rumahan yang tak memiliki modal untuk membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Jadinya kami hanya bisa melakukan pembinaan,” tuturnya.

    Ketua RT 06, RW 03, Sunter Jaya, Waris menjelaskan para pembuat tahu dan tempe tersebar di RT 06, 08, dan 12. Para pembuat tahu dan tempe itu mulai merintis usahanya sejak 1960 dan mulai menjamur pada 1973.

    Baca:
    Anies Tambah Waring Tutup Kali Item 200 Meter Lagi

    Waris menjelaskan, warga setempat kerap menyebut Kali Sentiong dengan Kali Item. Sebab, warna airnya yang hitam dan menguarkan aroma busuk. Adapun Kali Item yang sesungguhnya terletak tidak jauh dengan Kali Sentiong. Dia menjadi sodetan antara Kali Sentiong dengan Kali Sunter.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.