Kemarau, Warga Bekasi Terpaksa Beli Air dari Cilincing Jakarta

Reporter:
Editor:

Clara Maria Tjandra Dewi H.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjual air bersih keliling mengantarkan derigen berisi air bersih di kawasan Muara Baru, Jakarta, 21 Maret 2017. Sebagian besar kawasan Muara Baru belum teraliri air PAM, akibatnya warga di kawasan tersebut harus membeli air bersih seharga 4 ribu rupiah per derigen (10 liter) untuk kebutuhan sehari-hari. TEMPO/Frannoto

    Penjual air bersih keliling mengantarkan derigen berisi air bersih di kawasan Muara Baru, Jakarta, 21 Maret 2017. Sebagian besar kawasan Muara Baru belum teraliri air PAM, akibatnya warga di kawasan tersebut harus membeli air bersih seharga 4 ribu rupiah per derigen (10 liter) untuk kebutuhan sehari-hari. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Bekasi - Warga Desa Pantaimekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, mengalami krisis air bersih pada musim kemarau ini. Mereka terpaksa membeli air dari Cilincing, Jakarta.

    Baca: BMKG: Masih Seperti Kemarin, Belum Ada Hujan Hari Ini

    "Air tanah kami berubah warna agak kemerahan dan berbau. Kalau untuk minum beli dari Cilincing, Jakarta," kata Ketua RT01 RW01 Desa Pantaimekar, Muaragembong, Arsiyah (45) di Muaragembong, Kamis 2 Agustus 2018.

    Menurut dia, kemarau di wilayahnya membuat sekitar 95 kepala keluarga setempat kesulitan memperoleh pasokan air bersih untuk kebutuhan mandi cuci kakus (MCK) maupun konsumsi keluarga.

    Bahkan fasilitas air artesis yang disediakan Pemerintah Kabupaten Bekasi di desa tersebut telah lama terbengkalai tanpa pasokan air bersih dari instansi terkait.

    "Sudah setahunan sumur artesis ini tidak ada gunanya," katanya.

    Baca: Antisipasi Kemarau, DKI Targetkan Waduk Berfungsi Maksimal 2019

    Warga di wilayah itu berupaya mencari air bersih dengan menanti pedagang air yang datang dari Cilincing Jakarta Utara ke kampung mereka setiap harinya.

    "Satu drigen isi 30 liter harganya Rp3.000. Kalau saya biasa beli satu drigen untuk dua hari, itu juga hanya buat masak dan minum. Kalau buat nyuci pakai air tanah," katanya.

    Warga setempat lainnya Echa (30) mengaku harus mengalokasikan kocek lebih untuk membeli air tanah dari tetangganya Rp1.000 per drigen karena tidak memiliki mesin sedot air tanah.

    "Kalau mau gali air tanah butuh uang Rp4,5 juta. Saya tidak punya uang, jadinya beli ke tetangga," katanya.

    Menurut dia, profesinya sebagai nelayan belum mencukupi biaya pembuatan air tanah yang relatif mahal.

    Warga setempat berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat segera memasok kebutuhan air bersih ke desa mereka selama kemarau yang diprediksi berlangsung Agustus hingga September 2018.
    "Kalau sumur artesisnya bagus, saya kira cukup untuk kebutuhan satu RW di sini," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.