Polisi Ringkus Pelajar Tersangka Tawuran Sadistis di Tangsel

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa korban tawuran pelajar terbujur kaku di kamar mayat RSUD Tangerang. MARIFKA WAHYU HIDAYAT

    Seorang siswa korban tawuran pelajar terbujur kaku di kamar mayat RSUD Tangerang. MARIFKA WAHYU HIDAYAT

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan – Polisi berhasil meringkus tersangka penusuk Ahmad Fauzan, siswa SMK Sasmita Jaya, Pamulang, dalam tawuran pelajar yang terjadi 31 Juli 2018 lalu. Ahmad yang menderita luka di wajah atau kepala sempat dilarikan ke rumah sakit namun akhirnya meninggal.

    Baca:
    Tawuran Sadistis Pelajar Tangsel, Gubernur Banten Turun Tangan
    Tawuran Sadistis Pelajar, Ini Instruksi Gubernur untuk Tangsel

    "Pelaku sudah kami amankan untuk dimintai pertanggungjawabannya,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tangerang Selatan Ajun Komisaris Alexander Yurikho, Senin 13 Agustus 2018.

    Alexander mengatakan tersangka juga sesama pelajar dan masih tergolong anak. Namun dia memastikan pengusutan terus berjalan. “Selengkapnya nanti ya,” katanya yang akan mengundang kepala dinas pendidikan kota setempat untuk memberikan keterangan.

    Tawuran pada 31 Juli 2018 lalu terjadi antara kelompok pelajar SMK Sasmita Jaya dan SMK Bhipuri Serpong. Lokasinya, Jalan Raya Puspiptek, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, pukul 15.35 WIB.

    Dalam peristiwa itu, Ahmad Fauzan, 18 tahun, siswa SMK Sasmita Jaya menjadi korban. “Korban mengalami luka tusuk sebilah besi pada wajahnya," ujar Yurikho.

    Baca:
    Oalah, Perampok Rumah Potong Hewan Menyamar jadi Ojek Online

    Nyawa Fauzan sempat diselamatkan Angga Setiawan, seorang sopir ojek online, yang mengantarnya ke Rumah Sakit Hermina Serpong. Fauzan lalu dirujuk ke RSCM Jakarta. Namun, satu pekan dirawat, Fauzan pun mengembuskan nafas terakhirnya pada Selasa 7 Agustus 2018. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.